Marriage Care,  Note to Self,  Titik Terang

Bijak Menggunakan Media Sosial (untuk pasangan suami-istri)

Belakangan ini lagi suka-sukanya scroll-scroll berbagai sosmed yang ada di HP. Mulai dari iG, terus pindah ke Facebook, lalu ke status WA. Kadang-kadang kalau bosa baru buka Twitter, buka Twitter ini harus yang terakhir dengan tujuan bisa lebih netral aja perasaan dan pikiran. Karena informasi yang di dapat di Twitter berbeda dengan sosmed yang sebelumnya. Dan di Twitter, aku tidak berteman dengan orang-orang yang kukenal.

Entah kenapa, belakangan ini sering sekali lihat status-status (akibat scroll ga jelas juga sih) ibu-ibu atau bapak-bapak yang aku kenal. Herannya status mereka isinya sesuatu yang negatif melulu, hampir setiap hari. Ya mengeluh dengan keadaannya sendiri, ya melenguh dengan sikap dan sifat pasangan, sampai pada akhirnya membandingkan keadaan keluarganya dengan keadaan keluarga orang lain. Tidak sedikit malah sebagai sindiran ke keluarga dekat mereka, ke adik atau kakaknya, ke sepupu atau bahkan teman dekatnya.

Mulai dari membandingkan, ”kenapa ya hidupku gini-gini aja, sedangkan yang lain baik-baik aja?!” sampai pada, ”iyalah dia hidupnya bahagia, dia kan kaya, keluarga dia kan kaya, sedangkan aku sih susah terus hidupnya. Buat makan besok aja ni mikir mau belinya pakai apa!”

Ternyata melihat status-status begitu, membuatku jadi, hemmm, bagaimana ya aku mengatakannya? Sedikit jadi terpengaruh?!

Sebenarnya kadang jadi sedih juga sih melihat status-status seperti itu, apalagi dari keluarga sendiri, aku tahu orangnya, dekat malah dengan mereka. Sedih juga karena mereka malah memilih untuk memberitahu dunia mengenai hal-hal negatif itu (pertengkaran dengan pasangan, perang status menjelekkan pasangan, sampai menyindir orang lain). Kadang kalau yang buat keluarga sendiri, jadi merasa tersindir juga sih, padahal belum tentu juga status-status itu ditujukan kepadaku dan keluargaku.

Padahal sebenarnya suami sudah sering bilang ”jangan dilihat, nanti malah jadi terpengaruh, bisa jadi status itu bukan buat kita, tapi kita jadi merasa tersindir” begitu kata suami setiap aku menceritakan mengenai status mereka yang tidak sengaja kulihat. Tapi ya gimana ya, yang namanya aku, apalagi kalau sudah tidak ada kerjaan dikit aja, pasti kebiasaan scroll-scroll terus. Kemudian nemu aja deh status-status nyeleneh gitu. Kemudian ujung-ujungnya jadi terpengaruh juga walau tidak banyak. Ini sih kebiasaan yang harus segera dimusnahkan, segera deh, janji!

Tapi kemudian, dari kejadian ini aku jadi dapat kesadaran juga sih, merasa diingatkan lagi, bahwa kita harus sangat-sangat-sangat bijak dalam menggunakan sosmed ini, apalagi saat kita membagikan hal-hal yang sangat pribadi tentang diri sendiri, pasangan, anak dan hal-hal yang terjadi di keluarga kita.

kebenaran yang ada di sosmed itu, hanya sepersekian persen dari realita yang sebenarnya,” kata-kata itu benar sih. Dan ini salah satu penyebab jadi ’serba salah’ dalam menggunakan media sosial.

_ kalau kita bagikan hal yang menyedihkan atau menyusahkan saja, orang-orang akan mengira hidup kita 100% menderita.

_ kalau kita bagikan hal-hal yang menyenangkan saja, orang-orang akan hanya melihat kita senang dan bahagia terus, tanpa tahu bahwa kita juga berjuang mati-matian untuk mendapatkannya.

Dan aku jadi salah satu yang termasuk mengalami keserba salahan dalam menggunakan sosial media ini, apalagi setelah melihat status-status seperti di atas itu.

Kalau di pikir-pikir, akan ada 3 respon dari pemakai sosmed lainnya saat melihat postingan kita (baik postingan yang sedang kesusahan atau sedang bahagia) :

  1. Memandangnya sebagai hal yang negatif, seperti cemburu, iri, atau malah jadi membandingkan diri ketika melihat kita sedang bahagia. Bisa jadi mereka jadi mencemooh dan mengatakan kita kurang bersyukur dengan hidup yang kita miliki, saat kita memposting kekurangan kita.
  2. Memandangnya sebagai hal yang positif, ini biasanya agak sedikit. Mungkin akan ada sedikit dari mereka yang ikut bahagia dan senang dengan tulus, kemudian mencontoh usaha yang telah kita lakukan untuk mendapatkan bahagia itu. Namun bisa jadi juga mereka bersyukur, tapi sayangnya bersyukur karena ketidakberuntungan yang sedang menimpa kita.
  3. Ada juga orang-orang yang sama sekali tidak peduli. Mereka hanya scroll kemudian melihat postingan kita sebentar, kemudian scroll-scroll lagi melihat postingan yang lain.

Lalu pertanyaannya :

3 respon di atas apakah memberi manfaat langsung kepada kita? Apakah 3 respon itu bisa memberikan kebebasan dari keterpurukan yang sedang kita hadapi dan miliki? Kalau jawabannya, tidak, lalu buat apa kita mempostingnya? Lalu buat apa kita harus menuangkan energi dan pikiran kita untuk memberitahu dunia mengenai apa yang sedang kita alami dan perjuangan kita menghadapi hidup kita?

Aku juga jadi bertanya-tanya pada diriku sendiri, apa sih tujuan kita saat memposting sesuatu, baik itu kesusahan yang kita sedang hadapi atau kebahagiaan yang kita miliki? Mendapatkan validasi dari orang lain? Mendapatkan dukungan? Atau untuk pujian? Lalu apakah semua itu sudah cukup hanya sampai sebatas dalam menu like, dan comment saja? 

Apakah saat seorang berkata, ”Semangat ya bro, kamu pasti bisa lewati kesusahanmu ini,” lewat comment, lalu kesusahanmu jadi hilang? Atau saat seribu orang menekan tombol like pada postinganmu yang memperlihatkan saat kamu liburan dengan pasangan, itu jadi membuatmu semakin terpuaskan? Apakah rasa puas dan bahagia itu melebihi rasa puas dan bahagia ketika kamu benar-benar bersama pasanganmu menikmati liburan itu? Atau apakah kepuasan dan kebahagiaan itu menambah kebahagiaanmu mula-mula? Kalau iya, lalu sampai kapan bisa bertahannya? Setahun, dua tahun, apa sampai selamanya?

Aku jadi membayangkan skenario terburuknya,

Bisa jadi kita akan mengejar terus menerus kepuasan dan kebahagiaan saat mendapatkan seribu atau lebih like di sosial media atas postingan yang kita bagikan. Lalu hal itu menjadikan kita terus melakukan hal yang sama, atau mungkin tanpa sadar kita jadi memaksakan diri, pasangan dan keadaan untuk terus melakukan hal-hal seperti itu hanya untuk mendapatkan bejibun like di dunia maya itu. Alih-alih melakukannya karena bentuk syukur dan bahagia dengan pasangan, malah menjadi mengejar pujian dan validasi dari orang lain. 

(semoga ini hanya skenario terburukku saja, dan tidak benar-benar terjadi pada siapapun)

Kalau dipikir-pikir lagi (ini buatku sih), semua itu ternyata tidak berdampak langsung buat kita. Masalah kita tidak akan selesai hanya dengan seratus sampai seribu comment yang memberikan dukungan dari teman-teman di sosial media. Dukungan itu memang akan memberi semangat kita dan mengurangi keterpurukan, tapi hanya akan berhenti di sana kalau tidak ada usaha dari kita menyelesaikannya. Pun sebenarnya kebahagiaan kita tidak jadi berubah hanya dengan like yang bejibun. Bahkan bisa jadi banyaknya like itu hanya akan mengundang masalah lain yang bisa menimpa kita, tanpa sebenarnya kita sadari. Bisa jadi kita melupakan kebahagiaan kita yang sebenarnya, dan beralih hanya berfokus pada kebahagiaan semu di dunia maya itu. 

Lagi-lagi, kalau kupikir-pikir, memang benar sih keputusan suami, punya sosmed, tapi tidak untuk mengumbar status atau hal-hal privasi. Bahkan dia hampir tidak pernah bikin story di manapun atau upload foto dan video. Dia bahkan ogah membuat facebook. Dia pernah sekali bikin status di WA, itupun tiga tahun yang lalu, saat kami pertama kali merayakan tahun baru bersama sebagai suami istri.

Sebagai perempuan, sebagai pasangan, dulu memang pernah aku marah karena dia tidak pernah memperlihatkanku di sosial medianya. Aku cemburu dan iri dengan teman-temanku yang lain, yang selalu menebar kasih sayang dengan pasangannya di dunia maya itu. Tapi kemudian si suamiku ini menjelaskannya, dan kata-katanya itu masih membekas sih diingatanku. “aku tidak hidup di dunia maya itu, aku hidup di dunia nyata ini bersamamu, jadi buat apa aku harus memposting segala tentang kita, keluarga kita di sana. Aku lebih suka menikmatinya dengan nyata bersamamu, tanpa harus membagi-bagi perasaan itu pada orang lain,”

Dan sejak itu, aku tidak pernah cemburu dan iri, apalagi membandingkan pasanganku dengan orang lain. Dia tahu apa yang dia pilih dan dia melakukannya dengan konsisten.

Jadi, inilah kesimpulan yang kudapat untuk mengakhiri tulisan ini (yang sebenarnya hanya sekedar tulisan mengisi waktu luang).

Ada 5 hal-hal yang seharusnya dihindari pasangan suami-istri dalam memakai media sosial (sebenarnya ini pilihan setiap individu sih, tapi kalau buatku, aku tidak akan melakukan ini) :

Membuat video setiap/sepanjang hari dan upload foto keseharian

Selain buat orang-orang di sosmed jadi bosan karena terus disuguhkan yang sama terus, satu lagi yang terpenting, kita dan pasangan jadi tidak punya privasi. Orang-orang yang kita kenal, dan yang tidak kita kenalpun akan tahu dan jadi hapal dengan pergerakan kita. Ini juga bisa jadi masalah buat kita di kemudian hari, bisa jadi keamanan kita jadi tidak terjaga karena secara tidak sadar kita membagikan hal-hal yang tidak perlu dan termasuk dalam hal yang sebenarnya harus dirahasiakan dari orang lain. Seperti alamat rumah, jam-jam kita melakukan sesuatu, waktu-waktu kita meninggalkan rumah, plat nomor kendaraan dll.

Kata-kata orang tua ada benarnya juga ya, ”jangan dikit-dikit bikin status, dikit-dikit posting, bahaya!”

Mengumbar kemesraan dengan pasangan

Hal ini yang sangat kusadari sih, dan yang suamiku juga konsisten lakukan sampai detik ini. Mengatakan atau mengutarakan betapa kita mencinta pasangan, dan bersyukur serta bahagia memilikinya, tentu akan lebih bermakna kalau kita lebih dulu mengutarakannya kepada pasangan kita, di rumah. Bukan malah mengupload atau membagikannya di sosial media.

Buat apa mereka di dunia maya yang tahu, tapi sasaran utama kita yaitu pasangan malah tidak mengetahuinya? Jangankan bisa merasakannya, tahu saja tidak, lalu buat apa? Padahal sebenarnya, ini yang sudah pasti, pasangan kita akan dapat lebih merasakan rasa bahagia, cinta dan syukur yang kita miliki untuknya, kalau kita benar-benar menyatakannya langsung kepadanya.

Selain itu juga, belum tentu orang-orang yang melihat postingan kita itu, akan ikut senang atau bahagia dengan apa yang kita rasakan. Bisa jadi membuat mereka iri, cemburu bahkan ada yang mungkin bisa membandingkan diri dengan orang lain. Niat awal kita yang ingin membagi bahagia, malah jadi memberi insight kepada beberapa orang untuk menimbulkan masalah bagi dirinya dan pasangannya. 

Perang status mengenai kekurangan pasangan dan kekecewaan kita terhadapnya

Hal ini yang sering kutemui belakangan ini akibat scroll-scroll ga jelas. Ada suami membuat status mengenai istrinya yang tidak patuh padanya. Ada istri membuat status mengenai suaminya yang malas dan tidak mau bekerja.

Seperti rasa cinta kita yang sebaiknya langsung kita sampaikan ke pasangan, begitupun rasa ketidaknyamanan bahkan kekecewaan kita terhadapnya. Apa manfaatnya ketika warga dunia maya tahu mengenai kekurangan pasangan kita? Apakah bisa membuat kekurangan itu berubah menjadi kelebihan dengan seketika? Tentu tidak.

Karena satu-satunya cara, hanya dengan membicarakan langsung kepada pasangan, di rumah, tatap muka, dengan hati yang terbuka dan kepala dingin. Bukan malah dengan status, bahkan pesan teks.

Membuat status mengenai permasalahan keluarga

Sekali lagi, permasalahan tidak akan selesai hanya karena kita mempostingnya di media sosial. Masalah tidak akan teratasi dengan banyaknya like dan comment yang kita dapatkan. Apalagi bisa jadi ada orang-orang yang malah ikut mensyukuri apa yang kita sedang alami, atau mereka merasa senang dan tertawa dengan masalah yang kita miliki. Lalu mungkin ada lagi yang menjadi kompor untuk tambah membesarkan bara api dan memperkeruh situasi antara kita dengan pasangan.

Sekali lagi, tentu saja itu tidak berguna untuk kita. Contoh, tidak punya uang untuk makan atau membelikan anak susu, memangnya uang itu akan serta merta ada, setelah kita buat status? Yang padahal kita akan dapat berkat uang hanya karena kita minta kepada Tuhan dan usaha kita untuk mendapatkannya. 

Menguntit pasangan di media sosial

Ini sih yang tidak bisa kulakukan, karena suamiku tidak hidup di dunia itu. Tapi ada banyak pasangan yang melakukan ini. Mereka bahkan ada yang comment atau DM ke teman-teman pasangannya yang dia nilai terlalu dekat dengan pasangannya.

Ini harus kita sadari dan akui, pasangan kita juga memiliki pertemanannya sendiri, bahkan sebelum menikah dengan kita. Di luar sana, di tempat kerjanya, ia memiliki hobi yang mungkin tidak sama dengan kita, dan pasti ia juga memiliki teman-teman lain.

Memang benar, kita perlu waspada, tapi hal ini harus kita mulai atau lakukan di rumah, berdua dengan pasangan, dari hati-ke hati untuk saling menumbuhkan kepercayaan dan kesetiaan satu sama lain. Bukan dengan membabi buta di sosial media. 

🌻🌻🌻🌻🌻🌻

Selagi menulis ini, aku jadi ingat, apa sih alasan-alasan yang membuat suamiku (dan mungkin beberapa orang juga diluar sana) bisa konsisten bijak menggunakan sosmed. Mereka jarang upload foto atau video atau memposting status-status di sosmed. Dari pengamatanku dan juga wawancara ringan dengan suami, mungkin kira-kira seperti ini alasannya :

Ia tidak butuh media sosial untuk membuatnya bahagia

Ini kata suamiku, “kebahagiaan yang kucari tidak ada di sosmed, dan tentu sosmed tidak akan pernah memberikan kebahagiaan yang sejati kepada kita,”. Bahkan juga tidak tergantung dengan like atau comment yang bejibun dan banyak dari orang-orang penikmat dunia maya itu. Ia tahu kebahagiaan itu bukan didapatkan dari orang lain, tapi diusahakan ada karena usaha diri sendiri, kemudian dibagikan lagi kepada pasangan.

Merasa tidak perlu menunjukkan atau membuktikan kepada orang lain kebahagiaan yang dirasa

Tidak jarang terjadi kebahagiaan yang kita posting terkadang disalah artikan oleh orang lain, inilah yang kemudian memunculkan iri, cemburu bahkan jadi bahan perbandingan kebahagiaan kita dengan orang lain. Karena itu, lebih baik keharmonisan atau kebahagiaan itu kita nikmati dan rasakan dengan pasangan kita saja, di rumah, di dunia nyata. Hal yang pasti, tidak perlu membuktikan kepada dunia bahwa kita dan pasangan baik-baik saja, karena tidak akan ada artinya juga buat orang lain.

Ia lebih menghargai momen atau waktu kebersamaan yang sedang berlangsung

Ada beberapa orang lebih memilih menyingkirkan ponsel mereka, mematikannya atau menyimpannya di dalam tas, saat sedang menikmati waktu liburan bersama pasangan, atau acara-acara lainnya bersama keluarga. Akupun kadang masih jadi orang yang harus segera posting apa yang kulihat dan apa yang kulakukan saat berlibur atau jalan-jalan, tapi kemudian itu jadi tidak berarti karena momen dan waktu berharga untuk menikmatinya 100% dengan pasangan malah jadi berkurang. Aku jadi lebih menyadari ini, lebih baik menikmati pemandangan yang sedang ada di depan mata bersama pasangan atau keluarga yang ada di samping kita saat itu, belum tentu kita akan berada di situasi dan suasana itu lagi suatu saat nanti. Jadi harus nikmati ‘here and now’ kita ya.

Jangan sampai kita kehilangan momen kebahagiaan yang sebenarnya di dunia nyata hanya karena kita sibuk memberi tahu dunia maya bagaimana cara kita sedang bersenang-senang.

Ia sudah cukup merasa percaya diri, puas dengan dirinya dan tidak insecure dengan orang lain

Ketika kita sudah cukup puas dengan keberadaan satu sama lain, maka kita tidak perlu lagi berlomba-lomba atau berkompetisi dengan pemakai sosmed lain dalam memperlihatkan kebahagiaan yang kita miliki. Tidak di pungkiri, sosmed adalah ajang kompetisi, semua orang berlomba-lomba menampilkan sisi terbaik mereka, tapi di sisi lain, hal ini akan menimbulkan perasaan insecure dan tidak puas dengan apa yang sudah kita miliki sekarang.

Ia tidak narsis dan selalu butuh pujian dari orang lain

Pasangan suami-istri yang bahagia sudah cukup bersyukur dengan kasih sayang dan perhatian yang diberikan oleh pasangannya, jadi merasa tidak lagi perlu untuk mencari pujian dan perhatian dari orang lain di dunia maya.

🌻🌻🌻🌻🌻🌻

Hah, akhirnya tulisan yang sangat panjang ini berakhir juga. Semoga tulisan ini bisa sebagai pengingat dan bahan sharing kita (juga dengan pasangan kita masing-masing) mengenai ‘bijak’ menggunakan media sosial ya!

Catatan:

Memposting sesuatu di media sosial tentu boleh-boleh saja, tidak ada larangan, dan wajar dilakukan. Tapi juga harus lebih bijak sebagai penggunanya ya. Bijak di sini tahu batasan-batasan sebagai pengguna agar tidak merugikan diri sendiri, pasangan dan orang lain nantinya. 

-aa-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *