God is Good,  Note to Self,  Titik Terang

Berkat Pasti Selalu Tersedia, Tapi…

.

.

.

SUDAH SIAPKAH TANGANMU MENERIMANYA?

______

Semalam sengaja mengubek-ubek notes yang sudah kutulis cukup lama. Lalu sampailah pada tulisanku di tahun 2017, 4 tahun yang lalu saat aku berusia 26 tahun. Tulisan itu berjudul “berkat”. Tadinya iseng-iseng aja, karena maunya mencari inspirasi baru untuk tulisan baru di blog. Heh, tidak hanya nemu inspirasi tapi juga nemu tulisan yang kutulis sendiri tapi masih relate aja dengan kondisiku yang sekarang, walau sudah 4 tahun berlalu. Jadinya double kill gitu aja, mendapat inspirasi sekaligus diingatkan kembali mengenai berkat ini. Secara tidak langsung jadi “tersembuhkan” seperti aku yang tersembuhkan juga di 4 tahun yang lalu.

Nanti kusertakan tulisan itu di bawah ya. Tapi aku akan berbagi dulu kondisiku saat ini kenapa masih bisa relate aja sama tulisanku itu.

Jadi, ditahun 2020 sampai tahun 2021 ini di bulan juni sampai agustus ini kondisiku lagi tidak menentu di berbagi aspek kehidupan. Aku rasa begitu juga dengan yang lain ya, dengan kalian yang juga menyediakan waktu kalian untuk membaca tulisan ini. Kita sama-sama sedang berjuang, karena pandemi ini kita sama-sama mengalami perubahan drastis dalam hidup kita. Mungkin yang awalnya enak, sekarang jadi agak susah. Mungkin yang awalnya berkecukupan sekarang jadi agak kurang, atau bahkan mungkin yang sebelum pandemi aja sudah susahnya minta ampun, tambah pandemi jadi semakin susah. Apapun itu, kondisi saat ini sangat membingungkan, membuat agak kelimpungan bahkan mungkin ada yang membuat sangat terpuruk. Apapun itu, aku juga selalu berdoa untuk kalian, untuk dunia ini, untuk bangsa ini agar kita sama-sama pulih kembali dan bisa keluar dari lingkaran kepanikan dan ketakutan ini.

2 tahun terakhir ini akupun sedang berjuang, walau perjuangan yang mungkin berbeda dengan kalian tapi namanya tetap sama, bahwa kita sama-sama sedang berjuang di jalan kehidupan kita. Tidak ada yang namanya perjuanganku lebih berat dan berjuanganmu tidak. Tidak ada yang namanya aku yang lebih banyak berjuang sedangkan kamu tidak. Kita sama, bagaimanapun itu.

Perjuanganku dan suami di dua tahun terakhir ini adalah memiliki momongan. Sudah hampir 2 tahun menikah, kerinduan mendengar suara tangis dan tawa bayi di rumah kami masih sangat-sangat besar. Diawal tahun 2020 sampai awal 2021 kami masih cukup kuat untuk melakukan promil. Kedokter 2 kali sebulan dan konsisten mengeluarkan uang jutaan. Pengecekan sel telur, kondisi rahim dan saluran sudah kujalani dengan emosi yang bercampur. Semangat, takut, sedih dan juga kesakitan. Tapi tetap kulakukan karena aku menginginkan seorang anak.

Begitu juga dengan suamiku, diapun berjuang, pengecekan sperma, minum obat berbulan-bulan sampai operasi yang menghabiskan puluhan juta. Diapun rela melakukannya, karena kami menginginkan seorang anak.

Tapi kemudian program itu terhenti di tahun 2021 ini, bukan karena kami tak lagi ingin, bukan karena kami tak lagi mau berusaha, tapi kami belum sanggup mengeluarkan biayanya. Kami telah habis-habisan sebelumnya dan sekarang kami sedang mengikat pinggang erat-erat. Suamipun harus melakukan banyak interview kerja karena sebentar lagi proyek yang ia tangani akan rampung dan perusahaan tempat ia kerja tidak lagi mendapatkan proyek. Pandemi dibalipun telah berimbas ke konstruksi, tidak seperti di tempat lain di Indonesia. Mulai ketar ketir dan mau tidak mau kami relakan untuk ‘rehat’ sejenak dari promil dan mempercayakan semesta memberikannya secara alami.

Dua kondisi ‘membelit’ yang kualami di tahun ini, keinginan memiliki anak yang semakin besar tapi juga dibarengi dengan kondisi keuangan kami yang sedang tidak stabil. Kondisi ini membuatku kembali menanyaan sesuatu, “Tuhan jika berkatMU selalu tersedia untuk kami, lalu kenapa yang satu ini benar-benar begitu susahnya kami dapatkan?”

Pertanyaan itu, tentu saja selalu kutanyakan sesekali selama 2 tahun ini. Saat tepat setelah aku melihat satu garis merah di stick testpack. “Kenapa berkat itu begitu susah kami dapatkan Tuhan? Apa salahnya? Apa kurangnya?” Begitu seterusnya, tidak jarangpun menangis sesenggukkan sendiri.

Malam kemarin menjadi malam yang berbeda, setelah aku dengan mulanya iseng melihat notes kemudian melihat tulisanku 6 tahun yang lalu. Aku membaca semua tulisan itu sampai selesai, kubacakan juga kepada suamiku dan dari sana aku dapat kesadaran bahwa “MUNGKIN” aku yang belum siap menerimanya. Jadi Tuhan belum turunkan berkat itu kepadaku.

Berkat itu selalu tersedia, tapi sudah siapkah kita menerimanya?

Kugali lagi kesiapanku untuk memiliki momongan, dan ternyata (ini tamparan untukku), aku belum siap menjadi seorang ibu. Ternyata jauh di dalam hatiku yang dalam masih ada kata “tapi” ditengah-tengah keinginanku itu.

“Aku ingin memiliki momongan, tapi bagaimana nanti dengan pekerjaanku? Apa bisa nanti beriringan?”

“Aku ingin memiliki bayiku, tapi nanti bagaimana aku mengasuhnya? Kalau aku kerja, pada siapa kutitipkan dia?”

Atau ada lagi jenis-jenis ketidaksiapan yang lain yang sebenarnya ada di balik pertanyaan-pertanyaan yang terucap.

“Kenapa Tuhan belum percayakan aku menjadi ibu, padahal aku ingin segera memiliki bayi, orang-orang pasti bertanya-tanya kenapa aku belum hamil sampai sekarang,” – apa benar sudah siap jadi ibu? Apa bukan karena takut menjadi pertanyaan orang lain?

“Aku siap menjadi ibu. Kenapa aku belum dikarunia anak, sedangkan temanku sudah dua anaknya.” – ingin jadi ibu cuman karena melihat teman sudah punya dua anak, apa benar sudah siap?

Kusadari masih banyak tapinya, masih banyak pemikiran-pemikiran buruk di masa depan ketika aku bayangkan memiliki momongan, dan lagi ada pertanyaan lain, apakah keinginanku memiliki anak ternyata karena aku membandingkan diri dengan yang lain? Apakah keinginanku menjadi ibu segera, karena takut menjadi sumber gibah orang lain?

Sama seperti pertanyaanku 4 tahun yang lalu ditulisanku itu. “Aku ingin dapat kerja Tuhan, kok belum dapat sih? Papa mama nanyaiin terus ni? Teman-temanku sudah ada yang dapat kerja, aku belum”. Dari pertanyaan-pertanyaan itu sebenarnya keinginanku mendapatkan pekerjaan apakah memang karena aku sudah siap? Atau hanya karena agar tidak ditanyain papa mama terus, atau malu sama teman-teman yang lain yang sudah dapat kerja? Disitu poinnya. Aku harap kalian juga menemukannya. 

Dari kesadaran itulah, aku tahu dan sadar bahwa ternyata aku yang BELUM SIAP menerima berkat yang sebenarnya sudah tersedia itu. Dari kesadaran itu, aku jadi tahu bahwa masih banyak keraguan dalam hatiku kepada diriku sendiri jika nanti berkat itu kudapatkan. Akan kuapan, akan bagaimana dan masih banyak lagi. Belum lagi ternyata ada pikiran bahwa hanya ingin menunjukkan kepada orang lain (yang aku rasa menggibahkanku – padahal baru kurasa saja) bahwa akupun pantas menjadi seorang ibu. Oh, sungguh egoisnya aku.

Pelan-pelan, bahkan saat aku menulis tulisan ini, akupun mulai memaafkan diriku sendiri. Dan belajar untuk lebih memantaskan diri, lebih menyiapkan diri untuk menerima berkat itu. Itu pe-er ku saat ini. Menghilangkan pikiran-pikiran buruknya, lebih santai dan tenang menunggunya, dan membersihkan hati dan pikiran dari kata tapi dan juga pengaruh yang lain.

Aku ingat, aku membuat tulisan 4 tahun itu di akhir januari 2017, kemudian di pertengahan februari 2017 aku mendapatkan pekerjaan. Ajaib ya, setelah menulis tulisan yang menyadarkanku mengenai berkat itu, dan setelah ‘membersihkan’ hatiku dan menyiapkannya, membuatku segera mendapatkan berkat itu.

______

Ini tulisanku di tahun 2017, akhir Januari.

Tidak hanya sebagian orang di dunia ini, tapi sepertinya memang hampir keseluruhan orang di dunia ini selalu meminta dan menginginkan berkat. Kenapa ‘hampir’? Karena tidak dipungkiri ada sebagian orang, sebagian kecil orang yang tidak meminta berkat kepada Sang Penguasa Dunia ini yaitu Tuhan, tapi mempercayakan bahwa berkat itu bisa didapatkannya sesuai dengan kemampuan mereka sendiri.

Entah sadar atau tidak sadar, sebenarnya berbicara dalam hati saja, dia sudah berbicara dengan Tuhan. Karena Tuhan ada di setiap hati manusia.

Berkat sangat banyak bentuknya, ada berkat rohani ada berkat jasmani yang terdiri dari berkat kesehatan fisik, berkat pekerjaan, berkat materi dan masih banyak lagi berkat-berkat lainnya. Banyak orang di luar sana masih dengan giatnya mengejar berkat itu. Mereka selalu meminta dan kalau bisa berteriak dengan lantang untuk memanggil berkat itu.

Ada sedikit yang menyadari hal ini, dan sebenarnya aku juga baru menyadarinya saat ini, bahwa:

“BERKAT ITU TIDAK HANYA UNTUK DIMINTA, TAPI KITA JUGA HARUS SIAP UNTUK MENERIMANYA!”

Dan saat ini aku ingin membagikan pengalaman itu kepada kalian.

Aku baru saja lulus program studi Magister Profesi di akhir tahun 2016 lalu dan di Wisuda pada bulan September. Setelah di wisuda ada dua jenis pekerjaan yang kulakukan tapi bukan pekerjaan tetap. Ini adalah berkat pekerjaan yang kuterima dari Tuhan, dan aku sangat bersyukur akan hal itu.

Satu bulan menjadi konsultan untuk membuat job description di sebuah koperasi di Gresik. Tugasku dan satu lagi rekan kerjaku adalah membuat job desc baru untuk mereka, mensosialisasikannya, sampai akhirnya persetujuan job desc tersebut. Begitulah kasarnya. Aku sangat bersyukur karena diberikan kesempatan untuk melakukan pekerjaan ini. Walaupun dari Psikologi Klinis, tapi aku banyak belajar bagaimana mengaplikasikan ilmu psikologi di bidang Industri. Dan aku sangat berterima kasih dengan mbak Ika yang dengan setia mengajariku dan memberitahukan banyak hal baru yang kutemui di lapangan. Pekerjaan lainnya adalah freelance. Aku mengambil beberapa tugas untuk membuat laporan penerimaan tenaga kerja di Surabaya. Pekerjaan itu bisa kukerjakan di rumah dan di waktu senggang. 

Setelah akhirnya pekerjaan itu selesai, di bulan Oktober, aku sangat bersyukur karena berkat dari Tuhan lagi-lagi kurasakan. Aku mendapatkan GAJI PERTAMA ku. Wah, rasanya benar-benar ajaib. Aku mendapatkan uang dari hasil kerja kerasku selama 1 bulan ini (Pulang Pergi Gresik, belajar dari awal mengenai industri dll). Aku mengatakan pada diri saya sendiri, bahwa:

“Aku pantas mendapatkannya!”

Kemudian diakhir November, aku memutuskan untuk pulang ke Bali, karena aku merasa akan lebih baik kalau bekerja di Bali saja (di tambah dengan berbagai alasan lainnya). Sejak kepindahanku ke Bali, aku mulai gencar memberikan surat lamaran dan CV kepada beberapa rumah sakit, biro dan juga Universitas. Aku pernah melakukan wawancara untuk salah satu Universitas baru di Bali, tapi kemudian tidak ada panggilan lagi untuk melakukan wawancara selanjutnya. Aku pernah mengunjungi sebuah Biro Psikologi yang dibentuk oleh dosen-dosenku saat S1, tapi ternyata itu belum juga cukup. Aku belum juga mendapatkan pekerjaan. 

Benar yang orang lain katakan, bahwa mencari pekerjaan itu sebenarnya mudah dan banyak pekerjaan di luar sana. Aku juga menyetujuinya.

Saat aku berkendara, aku melihat beberapa orang memakai seragam kerja mereka, mereka sedang dalam perjalanan menuju tempat kerja. Ketika makan di suatu tempat, aku melihat para pekerja yang sibuk melayani kami, aku melihat beberapa orang sedang rapat sambil makan siang bersama rekan kerjanya. Saat di Mall, aku melihat para SPG dan juga pekerja lainnya sibuk memberikan senyum dan pelayanan terbaik mereka kepada pelanggan. Saat itu aku merasa iri dan cemburu.

Sungguh beruntung mereka, mereka mendapatkan pekerjaan dan sedang melakukannya sekarang. Dengan rasa iri dan cemburu itu aku kembali meminta “dimana pekerjaan untukku?”.

Dengan perasaan iri dan cemburu itu aku mulai mencari alasan-alasan bahwa aku belum dapat kerja karena jenjang pendidikan yang tinggi. Aku bisa saja menjadi SPG, bisa saja menjadi pramusaji (dengan hormat aku tidak berusaha mengecilkan atau merendahkan) tapi bukan itu ranah kerjaku. Karena aku tidak mengambil jurusan sekolah SPG atau pramusaji ketika di Universitas. Ranah kerjaku, berbeda dari mereka.  Namun ternyata lapangan pekerjaan untuk profesi yang kupunya tidak sebanyak untuk pramusaji dan SPG. Begitulah kenyataannya dan aku harus menerimanya (mungkin ini masih saja menjadi alasan). 

Sejujurnya aku juga merasa stres, aku merasa sangat bingung dan merasa bahwa ‘ah, sudahlah’ lalu berhenti berpikir, berusaha dan mencari. Terakhir, aku mengirimkan surat lamaran dan CV ke kantor pos yang ditujukan kepada rumah sakit yang baru akan beroperasi tahun 2017 ini. Itupun tidak jelas sampai akhir Januari 2017. Pengumuman penerimaan berkas di mundurkan dalam jangka waktu yang tidak ditentukan. Hah, aku semakin stres. 

Di awal Desember 2016, papa dan mama masih sering menyemangatiku “ayo telpon teman-teman yang sudah bekerja”… “kirimkan saja aplikasi-aplikasinya ke email perusahaan”, mama juga mencarikan pekerjaan dengan menanyakan kepada teman-teman yang ia tahu.

Tapi di bulan Januari ini mereka tidak lagi ‘secerewet’ sebelumnya, mungkin juga takut kalau aku semakin stres. Papa malah sangat memanjakanku dengan memberikan uang bulanan yang besarnya mungkin sama dengan gaji pertamaku kalau aku bekerja saat ini. Entahlah aku harus bersyukur atau tidak untuk ini. Aku tahu niat papa sangat baik. Saat aku wisuda papa  mengatakan “papa akan tetap berikan uang bulanan sampai kamu dapat kerja tetap” dan sampai saat ini ia selalu menepati kata-katanya. Dalam kebingungan dan kecemasan karena masih menganggur, membuatku ingin segera mendapatkan pekerjaan, agar kestresan ini hilang begitu juga kekhawatiran papa dan mama. 

Jadi teringat postinganku sebelumnya, aku yakin orang tuaku juga merasakan stres, bingung yang aku rasakan, karena itu mereka berusaha untuk membuatku senang agar aku tidak stres lagi dan mereka juga tidak merasakannya. Mungkin, begitu adanya. Mungkin juga aku salah.

Balik lagi ke tujuan awal postingan kali ini,

“APAKAH AKU SUDAH SIAP MENERIMA BERKAT ITU?”

Di akhir Januari ini, pada saat papa akan berangkat kerja keluar pulau, kami terbiasa berdoa bersama (papa, mama, adik dan juga aku). Kami berpegangan tangan dan berdoa bersama. Dan pada saat itulah aku tersadar akan sesuatu. Pada saat itu papa berdoa untukku.  

“Tuhan, berikan berkat pekerjaan untuk anak kami, namun terlebih dari itu, siapkan tangannya untuk menerima berkat-Mu”

Kurang lebih begitu doa papa. Saat itulah aku merasa baru terbangun kembali, saat itulah aku merasa “ditampar” dan membuat pipiku memerah, namun saat itu juga aku merasa mendapatkan suntikan semangat untuk memulai kembali sesuatu yang sudah sejak satu bulan ini kulupakan dan tinggalkan yaitu berusaha, berpikir dan mencari.

Ya, kata-kata itu membuat aku sakit sekaligus membuat aku sembuh. Sejujurnya, begitulah keadaanku saat ini. AKU BELUM SIAP menerima berkat itu.

Mungkin karena terbuai dengan kesenangan untuk bersantai yang jarang aku rasakan selagi menjadi mahasiswa, karena itu aku lebih senang tinggal di rumah dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang tidak diharuskan untuk berpikir. Hanya kerjakan saja, dan bim sa la bim, semuanya sudah selesai. Sangat mudah.

Ya, kuakui bahwa aku belum siap menerima pekerjaan, aku belum siap menerima berkat dari Tuhan, Karena sebenarnya “BERKAT DARI TUHAN SUDAH DISIAPKAN UNTUKKU.”.

Banyak pikiran bahwa nanti di tempat kerja akan memulai pertemanan dari awal, ada yang tidak suka ada yang suka. Pekerjaan akan sangat banyak dan menuntut tanggung jawab. Kalau selagi sekolah tanggung jawab hanya ada pada diri sendiri, sekarang tanggung jawab itu akan lebih besar dan menyangkut banyak orang. Apakah aku sudah siap dengan itu? Saat ini jawabannya belum. Dan inilah ketidaksiapanku karena itu berkat itu belum kudapatkan.

Ketahuilah, berkat itu sudah disiapkan. Bahkan pada saat kita dikandungan ibu kita, Tuhan sudah memikirkan bahkan sudah menentukan masa depan kita. Tugas kita adalah:

MENYIAPKAN DIRI DAN TANGAN INI MENERIMANYA!

Memang benar, iman tanpa perbuatan akan mati. Begitulah, kita meminta dan percaya bahwa Tuhan akan memberikan, tapi apakah kita sudah siap untuk melakukannya dan pada akhirnya menerimanya?

Mulailah dari sana, siapkan tanganmu menerima berkat, siapkan hatimu menerima kuasanya dan kamu akan menerimanya.

Semoga pengalamanku ini mencerahkan. Jangan bimbang dan takut ya,

TUHAN SUDAH SEDIAKAN. 

Dan pertanyaan selanjutnya,

APAKAH KITA SUDAH SIAP MENERIMA YANG TUHAN SUDAH SEDIAKAN? 

Nah, yang terakhir, bagaimana agar kita siap? 

Itu tergantung pada dirimu masing-masing. Berdoa sudah pasti, kemudian tanamkan dan kuatkan semua konsep kehidupanmu, apa tujuanmu, bagaimana kamu akan melakukannya. Maka semuanya akan berjalan dengan semestinya. 

Akhirnya…

Tuhan, hari ini aku yakin untuk mengatakan dan mengimaninya…

“AKU SIAPKAN TANGANKU DAN HATIKU UNTUK MENERIMA BERKATMU”.

______

Semoga tulisan ini juga bisa menyadarkan kita semua mengenai penantian berkat dari Tuhan. Tidak hanya menunggunya, kitapun diminta untuk siap dulu menerimanya, karena sebenarnya berkat itu sudah selesai tersedia untuk kita.

Sekali lagi,

SUDAH SIAPKAH MENERIMA BERKAT?

Kalau aku sih SIAP, aku harap kalian juga.

-aa-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *