Note to Self,  Titik Terang

Beri Waktu Dirimu (Merasa Luka, Kecewa dan Sedih)

Ada luka yang hanya bisa disembuhkan oleh waktu.

Tidak hanya bisa hanya dengan obat bernama A-Z dengan dosis tertentu, setelah obat habis kita bisa dinyatakan sembuh. Tidak bisa juga dengan membedahnya kemudian mengambil sumber atau penyebab luka itu, mengeluarkannya lalu membuangnya jauh-jauh.

Ada luka yang hanya bisa sembuh dengan kesabaran dalam menapaki jalannya yang mungkin panjang dan berliku, yang mungkin berbatu besar, tajam dan gersang. Ada luka yang hanya bisa disembuhkan dengan kita yang menerima adanya dirinya, kemudian menjadi temannya.

Nanti di waktunya yang tepat, kita akan sampai pada hari mengucapkan selamat tinggal untuknya dengan kelegaan hati dan luka yang sedikit demi sedikit telah memudar dan mengering.

Kita sembuh.

Dan juga bisa tetap tersenyum di waktu-waktu kita mengingatnya lagi nanti. Luka itu tidak lagi mempengaruhi kita dan tetap membuat kita tersenyum manis karena mengingatkan kita tentang rasa syukur karena pernah memilikinya.

Selalu ingat ini saat kamu sedang terluka, kecewa dan sedih ya!

Segala sesuatu yang harus terjadi, pasti akan terjadi!

Apalah kuasa kita sebagai manusia. Kita tentu tidak akan bisa mengontrol segala sesuatu hanya sesuai dengan apa yang kita inginkan saja. Ada hal-hal yang terjadi yang sama sekali tidak bisa kita ubah, tidakpun bisa kita hindari karena tidak ingin menghadapinya, kita menyebutnya takdir. Misal, tentang kehilangan karena kematian orang-orang penting yang kita kasihi atau benda-benda yang sangat kita sayangi yang sudah pasti membuat kita sangat terluka. Kelahiran atau kehadiran orang-orang atau benda-benda ke dalam hidup kita yang sudah pasti membuat kita sangat bahagia. Kadang ada juga saat kita sudah berusaha sebaik mungkin menjaga, membuatnya baik semaksimal yang kita bisa, toh kita juga bisa kehilangannya dengan cara apapun. What’s meant to be will eventually be. Jadi, yang bisa kita lakukan sebagai manusia hanyalah menerima saja segala hal yang terjadi termasuk luka, kecewa dan sedih yang kita rasakan sebagai bagian dari hidup ini.

Mereka sebagai proses pendewasaan

Percaya! Segala luka, kecewa bahkan kesedihan bahkan mungkin sakit yang kita terima adalah bagian dari proses yang membuat kita lebih dewasa. Tentu, kita juga boleh menangis, boleh marah, bahkan teriak atau menutup diri sementara. Tapi ingat, segala masalah atau tantangan yang kita hadapi tidak akan pernah melebihi kekuatan kita. Itu artinya kita pasti selalu bisa mengatasinya. Sebagai manusia kita bisa menangis, manusia juga bisa terluka, tapi manusiapun bisa mengambil segala hikmah dari setiap hal yang terjadi dalam hidupnya. Begitulah kita sebagai manusia, yang akan bertumbuh menjadi lebih dewasa karena hikmah-hikmah yang kita dapatkan dari segala sesuatu yang kita terima.

Segala sesuatu bersifat sementara

Segala sesuatu dalam hidup kita sudah dipastikan bersifat sementara. Benda-benda yang kita miliki juga bersifat sementara, ia bisa hilang, rusak, bisa juga digantikan dengan yang baru. Apalagi orang-orang di sekeliling kita. Kita toh tidak akan hidup selamanya bersama mereka. Bisa saja kita dipisahkan oleh kematian atau pergi ke jalan masing-masing karena sudah tak lagi bisa bersama bergandengan tangan. Begitu juga dengan luka, kecewa dan kesedihan yang kita miliki. Luka kita pasti akan sembuh, tangis kita juga pasti berhenti kemudian digantikan dengan tawa. Maka, kitapun sebaiknya menikmatinya juga dengan porsi yang pas. Jangan menangis dan marah yang berlebihan, jangan juga menganggapnya enteng kemudian bersikap baik-baik saja. Karena segala sesuatu sifatnya sementara lalu kenapa kita mengekspresikan dan menyimpannnya dengan sangat berlebihan dalam waktu yang lama terpuruk olehnya?

Menangis dan marah saja tidak akan mengubah apapun

Boleh marah, boleh menangis, tapi jangan berlarut-larut, karena marah saja tidak akan mengubah sesuatu. Menangis saja tidak akan serta merta mengulang waktu dan kita bisa menghindari penyebab kita menangis dan terluka. Karena itu marahlah dan menangislah dengan porsi yang pas dan tepat, setelah itu kembali bangkit, cari jalan lain, cari pintu yang terbuka untuk merubah segala luka kita menjadi kesembuhan yang membahagiakan. Hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah “keep going”. Harus langkahkan kaki lagi, walau terbata-bata atau pelan-pelan, hanya selangkah demi selangkah. Yang terpenting, bukan kita yang hanya diam di tempat yang sama dan terus menerus menangis dan terpuruk. Langkah maju perlu dilakukan agar kitapun bisa keluar dari situasi buruk itu dan dapat mengubahnya ke situasi yang lebih baik di depan saja.

Luka, kecewa dan sedih membuat kita bertumbuh

Luka, kekecewaan dan kesedihan yang kita rasakan sebenarnya membuat kita bertumbuh. Selalu ada hal baik dalam setiap kesulitan dalam setiap tantangan dan masalah yang Tuhan ijinkan menghampiri kita. Mereka membuat kita belajar untuk menjadi pribadi yang jauh lebih baik, memberikan kita wawasan baru, cara-cara permecahan masalah lain yang bisa kita gunakan dalam perjalanan hidup kita. Kehadiran mereka mungkin memberikan kita luka, kecewa dan kesedihan diawal, karena kita yang baru saja menerimanya dan memerlukan adaptasi untuk memahami maksudnya. Dan pasti selalu ada hal-hal baik juga yang mengikuti kehadiran mereka. Hal-hal baik yang dibawanya itu perlu kita sadari kemudian kita ambil, itulah yang membuat kita semakin bertumbuh. karena tidak hanya fokus pada kenegatifannya tapi juga fokus kemudian bersyukur dengan hal-hal baik yang juga diberikannya.

Kenegatifan orang lain bukan tanggung jawab kita, jangan terpengaruh!

Kenegatifan yang dilakukan ataupun yang dimiliki oleh orang lain bukanlah beban yang harus kita tanggung. Ketika seseorang berbuat tidak baik, biarkanlah. Jangan terlalu kecewa akan hal itu, jangan juga jadi menumbuhkan lebih banyak luka karena pikiran-pikiran (drama) saat mereka melakukan hal yang tidak baik kepada kita. Ingat, kita tidak harus menanggung luka ini. Biarkanlah kenegatifan mereka menjadi tanggung jawab mereka sendiri, jangan biarkan sampai jauh mempengaruhi kita kemudian membuat kita terpuruk karena menanggungnya di pundak kita.

_____

Beri waktu..
pada hati untuk merasa, walau yang dapat kita rasakan hanyalah luka, perih, lara dan juga kesedihan. 
seperti bunga, ia bersedia kuncup sesaat disaat malam atau saat turun hujan, lalu kembali mekar setelah langit kembali cerah. 
seperti pohon bunga yang rela ditebang agar tunas yang baru dapat tumbuh. 
begitu juga dengan hati, ia akan kembali sehat, bergembira, dan terobati kalau sudah saatnya tiba. 
tinggal beri waktu padanya.

Beri waktu..
pada mata kita yang harus dibanjiri oleh air mata. Beri waktu diri kita untuk menangis walau sampai semalaman, walau rasanya sampai sulit bernafas dan mata terasa perih. 
seperti bintang dan bulan, ia bersedia dengan setia menunggu sampai langit menjadi gelap, sehingga ia dapat terlihat lebih benderang. 
begitu juga air mata kita, ia harus dikeluarkan kemudian sampai pada batasnya.
sehingga setelahnya kita hanya bisa tersenyum dan tertawa.

Jadi, beri waktu pada dirimu.

(tulisan ini kutulis di 21 Maret 2019 yang sudah diupload di @titik.terang_id)

Semoga artikel ini bisa membantu untuk memberikan semangat dan mengembalikan motivasi untuk memahami dan menerima segala hal yang terjadi dalam hidup ini.

Ingat, kita bisa dan boleh, sangat boleh merasa dan mengekspresikan apapun yang kita rasakan dan pikirkan. Wajar, tidak ada salahnya.

Tapi, catatan pentingnya adalah RASAKAN dan EKSPRESIKAN dengan PAS.

SESUAI PORSINYA ya!

Kita pasti selalu kuat dan bisa mengatasi apapun!

-aa-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *