God is Good,  Titik Terang

Begitu Katanya Orang-Orang (belajar dari ombak dan buih)

Si ombak sudah mencoba mencegah si buih untuk mengikutinya ke daratan. 
Setau ombak daratan tak akan setenang di dalam sini. 
Diapun tahu si buih tak akan pernah menyukai daratan sesampai ia disana.
Tapi, sudah lebih dari puluhan kali si buih tetap mengiba, membuat si ombakpun tak bisa mencegahnya lagi, kemudian berjanji akan membawa buih besok siang. 
Semoga besok siang, ia akan berubah pikiran. 

Si buih tidak berhenti tersenyum sepanjang hari, besok dia akan pergi ke daratan bersama ombak. 
Si burung-burung kecil mengatakan kalau daratan sangat keren, sangat indah, dan sangat nyaman untuk ditinggali. 
Si buih sangat bersemangat dan membayangkan daratan yang sangat indah itu.
Seperti yang dikatakan oleh si burung-burung yang sedari seminggu lalu entah kenapa selalu berkunjung ke pijakannya. 

Keesokan siangnya, 
Si buih sudah tidak sabar menunggu si ombak kembali dari daratan. 
Si ombak yang sudah melihatnya dari kejauhan membuatnya memelankan gulungan langkahnya. 

“Aku siap ombak, ayo kita kedaratan,” kata si buih.
”Daratan tidak seindah, setenang dan sekeren itu. Urungkan niatmu!”
”Tidak, kamu sudah janji, tepati janji itu dan bawa aku kesana,” si buih kembali merengek.
”Si burung membohongimu,”
”Tidak, aku percaya padanya. Bahkan aku lebih mempercayainya dibandingkan kamu,”
”Kenapa? Aku kan saudaramu,”
”Kamu hanya tidak suka melihatku bahagia, karena itu kamu melarangku kesana. Kamu hanya ingin menikmati daratan yang indah itu sendirian. Kamu jahat.”
”Bukan begitu, si burung yang berbohong.”
”Tidak, ayo bawa aku sekarang.”

Si ombakpun menyerah, lalu mengiyakan permintaan buih. 
Ia membiarkan buih masuk ke dekapan gulungannya. 
“Aku siap! Ayo jalan.” katanya penuh semangat, berbeda dengan ombak yang begitu sedih sambil menggulung cepat menuju daratan. 
Ia tahu betul apa yang akan terjadi pada si buih di daratan nanti, tapi bagaimanapun ia menjelaskan kepada saudaranya itu, ia akan tetap bersikeras. 
Kebiasaannya begitu, begitu mempercayai yang hanya “katanya...” dari orang lain yang bahkan baru sekali atau dua kali ditemuinya. 
Ia bahkan tidak mempercayai ombak, saudaranya. 

Si buih masih sangat penuh semangat,
Dibalik rasa syukur terima kasihnya pada ombak, ia juga sangat kegirangan setengah mati ketika daratan kini mulai terlihat dan semakin dekat. 

1,2,3....
Buih terlepas dari pelukan ombak, si ombak melepasnya dengan sedih sedangkan si buih melepaskan diri dengan penuh semangat. 

Kemudian...
HEH,
Tapi,
Tapi,
Tapi,
“Ombak kemana?” buih mencari-cari. 
Ia berbalik dan melihat ombak kembali ketengah laut. 
Meninggalkannya. 

Dan sekarang tinggal si buih, di daratan yang katanya tenang dan indah itu. 
Entah kenapa buih tidak bisa merasakan keduanya. 
Tidak ada ketenangan, ia merasa sendirian. 
Ternyata terpisah dengan ombak, membuatnya takut. 
Dan lagi, 
Indah? 
Bagaimana ia bisa menikmati indahnya kalau tak lama lagi buihpun akan lenyap?
Menghilang, 
Menguap karena sinar matahari yang ternyata lebih panas daripada di lautan. 
Sebentar lagi, ia akan tercerai berai karena tertiup angin yang ternyata lebih kencang dari lautan. 

Buih merindukan ombak,
Merindukan rumahnya di tengah laut,
Merindukan ketenangan dan keindahan langit dari atas air yang tenang di tengah sana. 

Ombak cepat-cepat berbalik ke lautan, agar ia lebih cepat bergulung ke daratan. 
Ia ingin menjemput ombak, sebelum ia menghilang masuk ke dalam pasir dan tak akan kembali lagi. 
Tapi ternyata harapannya tak semudah itu terwujud. 

Bahkan sebelum ombak kembali datang, ia sudah hilang lenyap tak bersisa. 
Kini semuanya pun tinggal penyesalan.

Ternyata,
yang “katanya..” bisa jadi tidak sama dengan kenyataannya. 
Ternyata,
terlalu semangatpun bisa melenyapkan jiwa. 
Ternyata,
lebih mempercayai orang lain daripada orang terdekat memberi dampak yang tak baik. 
Apalagi sangat percaya dan penuh semangat untuk hal yang masih “katanya..”

-andiniayu, september 2021

Banyak terjadi dikehidupan nyata, saudara saling tikam, saudara menghabiskan waktu dan tenaga untuk bertengkar, antar saudara bahkan saling mencaci menyalahkan kemudian meninggalkan satu sama lain. Hanya karena yang satunya lebih mempercayai kata-kata orang lain. Hanya karena yang satunya penuh curiga dan menganggap saudaranya ingin menjerumuskannya kepada hal-hal yang salah. Dan dua hal ini lebih sering terjadi karena orang lain menghasut kita yang sebenarnya cukup akur dan kompak dengan saudara.

Kalau kita tidak pintar memilah, kalau kita tidak cukup tenang dalam mencerna, atau kalau kita tidak cukup sabar dalam mencari tahu yang lebih tepatnya, maka kita akan mudah dikecohkan. Maka kita akan mudah terjerumus kedalam tujuan tidak baik orang itu. Mematahkan kekompakkan kita dengan saudara. Membuat kita tak lagi saling percaya kemudian tercerai berai.

Banyak terjadi bahkan membuat kita kehilangan segalanya karena masuk ke dalam jurang yang tidak seharusnya. Seperti si buih yang kehilangan dirinya, kehilangan ombak, kehilangan ketenangannya di tengah laut, kehilangan rumahnya. Dan ketika semua itu terjadi maka akan lebih sulit untuk kembali memperbaiki.

Kita sebagai manusia sudah pasti akan berbeda dari buih. Kita masih bisa kembali membangun silaturahmi, sudah pasti. Tapi apa sangat mudah seperti membalikkan telapak tangan? Tidak.

Seperti ada banyak yang dikorbankan saat kita pergi, akan ada banyak juga yang akan dikorbankan saat kita kembali. Ego yang paling utama, dan yang sudah pasti yang tidak ingin dikorbankan.

Dan biasanya, ketika kita sudah banyak kehilangan saat pergi, kita juga tidak akan bersedia lagi kehilangan saat akan kembali. Apalagi kehilangan harga diri karena ego yang sulit untuk diturunkan walau seinci. Dan jadilah berbaikan menjadi sangat sulit, membutuhkan waktu yang sangat panjang, dan untuk beberapa kasus menjadi mustahil dilakukan, kemudian berbaikan pun tidak pernah terjadi sampai salah satunya mungkin meninggalkan dunia ini.

Kemudian,

Penyesalan sudah tidak bisa lagi diperbaiki.

______

Processed with VSCO with g3 preset

Ini pesanku untukmu, yang juga menjadi pesanku selalu untuk diriku sendiri.

“Tidak ada yang lebih memahami kita, kecuali kita sendiri dan juga orang-orang terdekat kita. Ada tingkatan kepercayaan yang harus selalu kita ingat. Kepada Tuhan yang utama, kepada diri sendiri yang harus, dan kepada keluarga atau orang terdekat kita yang semestinya. Kepada orang lain? Hem, dilihat dulu, di cermati dulu dengan bijak, dan dipahami dulu maksudnya baik atau tidak.”

Ada pertanyaan, ada banyak juga kok keluarga malah membohongi, keluarga malah menjatuhkan, lalu gimana?

Ya, benar. Di waktu-waktu tertentu, di kondisi tertentu, bisa jadi keluarga juga memberikan kerikil tajam di perjalanan kita, atau bahkan memberikan saran-saran yang mungkin tidak tepat dan sangat sulit dilakukan.

Lagi-lagi, cermati dulu dengan bijak, dan pahami dulu dengan baik, apa maksud orang lain terhadap kita. Apakah saran-sarannya bisa kita lakukan, apakah pendapatnya tentang sesuatu masuk akal dan bisa kita pakai dalam menyelesaikan situasi kita yang rumit.

Ketika tingkatan kepercayaan dalam keluarga tidak lagi bisa ditetapkan, kembalilah ke kepercayaan terhadap diri sendiri. Jika memang tidak cukup yakin dan percaya dengan diri sendiri, larilah kepada ke kepercayaan terhadap Tuhan.

Jadilah, manusia yang memiliki kepercayaan diri, sehingga tidak seperti buih. Ia tidak bisa berpindah ketingkatan selanjutnya, ketika ia tidak percaya kepada saudaranya. Ia jadi kehilangan dirinya karena ia tidak cukup percaya dirinya sendiri.

Kita pasti selalu bisa.

-aa-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *