Short Story,  Titik Terang

Aku (mencoba, menjalani, berusaha, mencintai)

“Cintai apa yang kamu kerjakan, atau kerjakan apa yang kamu cintai”

Dua kalimat itu memiliki kesan yang dalam untukku. Dua kalimat itupun menjadi teman seperjalananku menjalani proses untuk menjadi individu, menjadi psikolog yang semakin profesional. 

Dulu, aku adalah anak SMA yang tidak tahu menahu apa itu psikologi dan mendengar namanya saja baru setelah salah satu temanku menyebutkannya. Aku jadi ingat dan sadar setelahnya, aku yang dulu, waktu anak SMA itu sama sekali tidak punya cita-cita pasti, bahkan mungkin saat itu aku tidak tahu menahu minatku sebenarnya apa.

“Jadi dokter ya,” begitu sering kudengar sedari kecil, dan kalimat itu menjadi satu-satunya pilihanku hingga SMA. “Jadi dokter deh.”

Disela-sela mengejar “dokter” itu, aku kemudian berubah pikiran, perkara melihat brosur penerimaan mahasiswa baru psikologi yang terselip di wiper mobil, pas banget setelah selesai tes PMDK.

“Aku coba deh,” begitu mantapnya hati. Padahal sama sekali tidak tahu akan belajar apa aku nantinya, terus akan kerja dibidang apa setelah lulus nanti. Tapi saat itu entah dari mana, aku tak berpikir panjang lagi untuk mencoba tes masuk mandiri itu. Akupun masih sangat ingat dengan jelas semangatku waktu itu. Padahal ya lagi-lagi ga tahu menahu sama sekali bidang apa itu. Aneh ya?

Akhirnya, psikologi menjadi pilihanku.

6 bulan belajar mengenainya, 1 tahun tetap bertahan, 2 tahun akhirnya “ya udah disini aja” karena sudah mulai ngeh apa yang kupelajari dan sudah mulai tertarik dengan apa itu psikologi.

Ya, akhirnya setelah 2 tahun.

Lama banget ya? Yes betul, aku butuh waktu selama 2 tahun hingga kemudian memutuskan bahwa jalan ini tidaklah salah, bahwa aku tidaklah sedang tersesat. Walau sebenarnya masih menerka-nerka juga ada apa di depan sana, dan bagaimana nanti di ujung perjalanan ini. Akhirnya, dengan ‘yasudahlah’’ aku memutuskan untuk melupakan dokter itu, pun melupakan yang lain, dan tetap setia dengan pilihanku saat itu. Dunia psikologi ini ga buruk-buruk amat, pikirku. Ya karena memang ga buruk lah.

Kusadari saat itu aku sedang menjalani kalimat ini,

“(Mencoba) mencintai apa yang kulakukan”.

Setidaknya aku mencoba dan berusaha mencintai dan menikmatinya. Hingga akhirnya aku menjadi mahasiswa magister profesi dan akhirnya aku menjadi psikolog.  

Lalu, kapan kemudian kalimat itu berganti? 

Aku tidak tahu tepatnya kapan, tapi yang jelas saat ini aku sangat mencintainya. Psikologi dan profesiku menjadi psikolog tidak lagi menjadi hal yang gelap dan buta untukku. Dan akhirnya, detik ini aku menyadari dan sudah sangat yakin, bahwa aku sedang,

“Mengerjakan dan melakukan apa yang kucintai.”

Begitu ya hidup? Begitu ya manusia? Bisa jadi ada orang (seperti aku dulu) yang belum tahu minatnya apa, kesukaannya apa, maunya apa, dan cita-cita profesionalnya apa. Saat ini setelah jadi psikolog dan ketemu beberapa klien yang mengatakan tidak tahu tujuan hidupnya apa, minatnya apa, membuatku jadi teringat aku yang dulu. Jadi membuatku lebih empati dan merasakan apa yang mereka rasakan.

Aku butuh bertahun-tahun untuk mengetahuinya. Dengan “memaksa” diriku untuk mencoba sesuatu dan berusaha untuk menikmati dan menjalaninya. Dan akhirnya, bimsalabim, semuanya jadi berubah. Akupun jadi sangat mencintai apa yang sebelumnya tidak kutahu, yang tidak kukenal dengan sangat dekat dan yang masih sangat berusaha kunikmati, masih sangat kucoba untuk jalani. Otomatis mencintainya pun masih sangat jauh perjalanannya.

Dan, heh, tanpa kusadari ternyata hal-hal yang kubiasakan lakukan, hal-hal yang walau terpaksa kulakukan sebelumnya, dan kemudian jadi memaksa diriku untuk mengenalnya lebih dalam, bisa membuatku mencintainya jadi sedalam sekarang. Dan ternyata, memang ada hal-hal yang memang harus dipaksa dulu, memang harus dijalani dulu, memang harus bersabar lebih lagi, dan satu lagi memang harus diusahakan dengan sangat dulu, baru kemudian menjadikan kita sampai pada kenikmatan atau kebahagiaan yang seharusnya.

Catatan perjalananku ini juga ingin kubagikan kepada kalian semua. Bahwa,

It’s okay untuk mencoba-coba sesuatu
It’s okay untuk memaksa diri melakukan sesuatu yang baru, keluar dari zona nyaman
It’s okay untuk bersabar dengan apa yang bisa dilakukan atau didapatkan saat ini 
It’s okay untuk berusaha lebih keras dari sebelumnya 

Tapi juga ingat, harus punya limit, kapan harus berhenti mencoba, menikmati, bersabar menerima dan menjalani hingga berusaha. Punya limit membuat kita tahu batasan. Tahu batasan membuat kita tidak akan tersesat dan salah jalan.

Satu lagi pesanku,

Mencoba sesuatu yang baru bukan berarti sengaja membuat diri tersesat atau mengantarkan diri kita kepada jalan buntu. You never know, if you never try. Mencoba untuk menjalani bukan berarti memaksa diri melakukan hal-hal yang tidak baik untuk diri. Toh ada sesuatu ya memang harus dipaksa dulu untuk tahu bagaimana nantinya. Dan biasanya banyak hal-hal baik terjadi karena diawali dengan ‘memaksa diri’ untuk melakukannya. Contohnya, paksa diri untuk rajin dan rutin olahraga, maka kita akan dapatkan badan yang lebih sehat. Berusaha dulu sampai semaksimal yang kita bisa, sampai limit waktu yang telah kita tentukan di awal. 

Limit atau batas waktu itu nantinya akan mengajarkan kita dua hal. Yang pertama, ternyata ini memang jalan yang harus kutempuh, ternyata dunia ini memang untukku, dan seperti yang kualami, oh ternyata psikologi ini memang sangat menyenangkan, aku tidak sedang tersesat dan akupun jadi sangat mencintainya sekarang. Atau yang kedua, pada saat dilimit atau batas waktu itu, kita pasti akan menemukan jalan lurus dan berbelok. Jika memang rasanya sudah semaksimal mungkin usaha dan mencobanya tapi ternyata tetap belum ketemu nikmat dan pasnya, masih ada banyak waktu kok untuk mencoba lagi di cabang jalan yang lainnya. Dan aku yakin, kita pasti tahu limit yang pas untuk kita itu kapan, dengan pemikiran yang matang mengenainya. 

Seperti aku yang menentukan limitku selama 2 tahun. Kenapa begitu? Semester awal dan kedua, aku yakin pasti masih akan mempelajari pelajaran umum, seperti agama, pancasila, dan lain-lainnya. Aku tidak bisa membuat keputusan karena itu berarti aku baru saja masuk gerbangnya, belum pintu rumahnya. Di tahun kedua, semua pelajaran akan lebih mengkhusus, aku jadi semakin kenal dengan apa yang akan kuhadapi. Saat ini aku baru saja memasuki pintunya dan melihat seiisi rumahnya. Pasti ada hal-hal menarik yang kutemui dan membuatku tertarik untuk bertahan, untuk menikmatinya. Dan begitu yang kualami saat itu.

Semoga pengalamanku ini juga bisa menjadi titik terang untukmu ya,

Salam,

Ayu Andini, M.Psi., Psikolog

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *