Note to Self,  Titik Terang

#5 tulisan tengah malam | jawaban yang kita mau

Kadang, kita terus berusaha sekuat tenaga mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang ingin kita tahu. Kadang juga, ketika kita sudah sampai pada jawabannya, kita malah kembali berusaha mencari jawaban yang lain.

Hingga pada akhirnya membuat kita tersadar, ternyata sejak awal yang kita inginkan hanyalah jawaban yang hanya ingin kita dengar saja. Ketika ia berlawanan, kitapun jadi melawannya. Ternyata sejak awal, bukan jawaban sebenarnya yang kita usahakan, tapi penguatan akan jawaban yang hanya kita inginkan saja.

Dan ternyata, hal itu menyakitkan dan membuat sedih. Keduanya. Usaha kita yang tak ada gunanya. Dan jawaban yang ingin kita dengar tapi tidak pernah kita akan dapatkan. 

Kadang bukan karena jawaban yang kita inginkan itu salah, tapi karena orang lain tidak bisa memberikannya pada kita. Dan salahnya lagi, kita mengira bahwa hanya jawaban itu yang akan merubah hidup kita menjadi lebih baik, lebih sehat, lebih bahagia. Dan akhirnya yang kita tahu adalah hidup kita bermakna karena ditentukan oleh orang lain. 

“Kita sendirilah yang bisa membuat diri kita lebih baik, lebih sehat, lebih bahagia. Bukan jawaban dari orang lain.” Kata-kata itu selalu saja diucapkan oleh orang lain kepada yang lainnya, atau oleh diri kepada dirinya sendiri. Memang begitu adanya. Realistisnya begitu. Tapi kenapa setiap orang, hemm, masih ada saja orang yang menapik kata-kata itu dan masih memburu validasi bahkan sampai janji kebahagiaan dari orang lain.

Sebegitu tidak mampukah untuk mengusahakannya sendiri? Atau sebenarnya kita hanyalah manusia pemalas?

Ya mungkin kedua hal itu makesense. Kita tidak mampu, tapi wait, benarkah? Kenapa tidak mampu? Apa benar begitu? Apa sudah memang benar-benar diusahakan maksimal? Apa memang sudah benar-benar direlakan untuk keluar dari zona nyamannya. Atau memang hanya malas saja? Hemm, wait, mungkin benar juga. MEMANG KARENA MALAS.

Malas mengupgrade diri, malas berusaha, malas keluar dari zona nyaman, malas merubah diri, malas melakukan lebih, malas mengalokasikan tenaga, waktu dan pikiran, malas ngapa-ngapain tapi maunya lebih. Uh dasar manusia.

Tulisan ini sebenarnya untukku sendiri, aku yang menjadi malas untuk melakukan apapun tapi ingin memiliki lebih, termasuk merasa bahagia dan senang dan selalu tertawa. Aku kadang lupa kalau semua itu ya bukan kita dapatkan dari orang lain, even itu dari pasangan, dari anak, apalagi dari orang tua atau saudara. Ya dari diri sendiri.

Mendapatkan jawaban ‘ya’ dari orang lain, adalah dambaan setiap orang. Ketika mendapatkan validasi, persetujuan dan juga dukungan positif, kita akan jauh lebih senang dan bahagia. Namun, jangan lupa, kadang kala akan kita dengarkan juga sesekali jawaban ‘tidak’ atau ‘mungkin’ atau ‘lihat nanti’ dan lain-lainnya. Yang mungkin akan menumbuhkan rasa marah, kecewa, benci, deg-deg an, tidak pasti, cemas, khawatir dan lain-lain.

Mungkin ada kalanya kita bisa mengubahnya dengan usaha lebih dari kita. Tapi jika sudah berusaha lebih jawaban tetap ‘tidak’ atau yang lainnya, lalu mau bagaimana? Apakah jawaban itu akan terus menjadi alasan untuk kita terpuruk, marah, kecewa kemudian membenci dan ujung-ujungnya tidak bahagia.

Kalau sampai begitu, sayang sekali karena seterusnya kita akan begitu. Menunggu orang lain untuk memberikan jawaban yang hanya kita mau dan itu yang hanya akan membuat kita bahagia.

Pesan penting untukku sendiri.

TIDAK HANYA HAL ITU yang bisa membuat kita bahagia ! Sekali lagi, tidak hanya kata-kata orang lain yang bisa membuat kita bahagia dan senang. Tidak hanya itu!

Yuk bisa yuk temukan sendiri kebahagiaan kita, dan ga jauh-jauh kok, bisa dari jawaban-jawaban dari diri kita sendiri juga.

Contoh: 
A - Aku ingin buka tempat praktek, menurutmu aku gimana?
B - Kayaknya untuk kondisi sekarang agak susah deh. Nanti kamu rugi banyak lho. Sepertinya juga kamu kurang cukup mampu untuk handle sendiri. 

STOP dengarkan itu, dan mulai dengarkan jawaban sendiri.
A - Aku mampu handle itu sendiri, dan akan aku coba di kondisi sekarang ini. Memang kondisi lagi susah, dan aku rasa aku sudah cukup berpikir dan menimang keputusan ini. Kita tidak akan tahu kalau tidak berani untuk mencoba. Memang akan sulit pasti diawalnya, tapi aku yakin aku bisa melewatinya. Tidak ada sesuatu yang serta merta kita dapatkan sudah sangat baik dan untung besar. Kita tetap harus mencoba, berusaha dan berserah. Jadi aku akan tetap lakukan.  

Memang, sebagai mahkluk sosial, kita membutuhkan orang lain sebagai sumber motivasi dan dukungan untuk melakukan apa saja dan memutuskan satu hal. Tapi bukan berarti apapun yang dikatakan oleh orang lain harus dengan utuh kita terima mentah-mentah. Ada pandangan-pandangan yang harus melalui skrining kita dulu, untuk dapat kita putuskan, oke bisa diterima atau dibuang/diabaikan saja.

Jadilah sumber jawaban yang kita mau, yang diawali dengan kita yang lebih dulu mencari tahu apa, kenapa, dan bagaimananya dengan sedalam-dalamnya, yang sedari awal menekadkan diri dengan semaksimalnya kemampuan kita, yang dengan usaha dan rasa berserah kepada Tuhan yang pastinya. Kemudian mencari pandangan atau dukungan (seperlunya) dari orang lain, sebagai pemanis atau pelengkap dari tekad dan usaha yang telah kita lakukan sebelumnya. 

Ingat ya, pelengkap dan pemanis, bukan penentu apalagi yang mengatur jalan, arah dan apapun mengenai hidup kita. Bukan hak orang lain untuk itu, apalagi bukan kewajiban mereka melakukannya. Hidupmu ya hidupmu! Atur sebagaimana mana mestinya kamu ya.

Bisa kok! Yuk belajar sama-sama, akupun masih berproses untuk ini.

-aa-

One Comment

  • 24 Best A-Line Bob with Bangs for a Modish Look

    Thanks for your interesting article. One other problem is that mesothelioma cancer is generally caused by the inhalation of dust from mesothelioma, which is a positivelly dangerous material. It truly is commonly viewed among laborers in the construction industry who definitely have long experience of asbestos. It could be caused by residing in asbestos covered buildings for some time of time, Inherited genes plays an important role, and some people are more vulnerable on the risk as compared with others.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *