Note to Self,  Titik Terang

#4 tulisan tengah malam | pantas dan tak pantas

Tak pantas. Ada kalanya, kita merasa tidak pantas bahagia. Pun pernah sesekali, kita berkata pada diri belum pantas melakukan sesuatu. Terkadang juga, kita mengurungkan diri untuk berbagi karena merasa kurang pantas melakukannya.

Tak pantas. Dua kata itu selalu mengecilkan hati, membuat langkah terhenti, ayunan tangan melemah, dan semangat memudar. Ada yang merasa tak pantas karena orang lain mengatakan demikian. Ada juga yang berpikir belum pantas, hanya karena dirinya yang berkata demikian.

Apapun alasannya, kata “tak pantas” TIDAK PANTAS diucapkan untuk diri, dipikirkan begitu lama, apalagi dirasa sangat mendalam. 

Kata-kata orang lain ada untuk membuatmu berhenti. Kata-kata dari dalam dirimu untuk membuatmu menyerah. Dan keduanya sudah pasti tidak selalu benar. Apalagi mengenai ukuran pantas atau tidaknya kita.

Mau sampai kapan? 

Kita sibuk mengukur pantas dan tidak pantasnya kita bahagia? Bukannya itu malah semakin menjauhkan kita dari tawa sukaria? 

Mau sampai kapan?

Kita sibuk mengukur pantas dan tidaknya kita melakukan sesuatu, bukankah itu malah membuat kita hanya diam di tempat yang sama, dalam waktu yang lama? 

Mau sampai kapan?

Kita sibuk mengukur pantas dan tidaknya kita membagikan sesuatu ke orang lain, bukannya itu sudah pasti menjauhkan kita dari sumber leganya telah memberi? 

Apapun alasannya, sibuk mengukur pantas dan tidak pantasnya kita, akan membuat kita tidak melakukan apa-apa, dan berakhir dengan kita yang tidak pernah pantas menjadi apapun. Bahagia, melakukan sesuatu, atau berbagi suatu hal, tak memerlukan label pantas atau tidak pantasnya kita. Tapi kemauan dan tindakan nyata yang kita usahakan. 

Satu hal lagi,

Kita pasti selalu pantas, jadi mau tunggu apa lagi? 

______

Aku sebaiknya tidak selalu merasa “TIDAK PANTAS” melakukan apapun, memulai sesuatu, atau menunjukkan apa yang kumampu. Karena saat aku merasa begitu, aku benar-benar tetap diposisi yang sama. Tanganku berhenti mengayun, kakiku tak lagi melangkah, membuat tubuhku tak kemana-mana.

Sudah seharusnya kuluruskan segala rasa dan pikirku. Bahwa,

Aku tentu saja PANTAS melakukan apapun, meraih inginku, atau menunjukkan kemampuanku. Yang TAK PANTAS adalah aku yang menghentikan langkahku karena selalu mengecilkan diri. Aku yang tak kemana-mana karena meragukan yang kupunya. 

______

“Merasa TAK PANTAS membuatku kehilangan peluang dan waktu, untuk menggapai inginku, untuk berjuang meraih harapku.” 

Tak akan kulakukan lagi ! 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *