Note to Self,  Titik Terang

3B (basa basi busuk) bukan penghancurku

Aku baru sadar bikin singkatan 3B, setelah beberapa detik sebelum memulai tulisan ini. Bagus juga ya, 3B. Basa Basi Busuk. Sejak lama kau tidak pernah suka dengan yang namanya basa basi busuk, apalagi basa basi yang ujung-ujungnya menyindir orang lain. Suka bingung kenapa orang-orang rela membuang tenaganya dan juga waktunya untuk berbicara yang tidak memberi manfaat apa-apa kepada orang lain, yang juga sebenarnya tidak memberikan keuntungan apapun untuk dirinya sendiri. Apalah artinya kesenangan karena telah mengeluarkan kicauan untuk menjatuhkan orang lain, atau memberi pengaruh buruk kepada orang lain, atau bahkan untuk menyakiti? Bukankah kesenangan itu hanya untuk sementara? Kemudian besoknya bingung lagi basa basi apa lagi yang harus dikatakan agar yang lain tersakiti kembali. Bingung. Sungguh. Kenapa harus membuang waktu dan tenaga untuk menumpuk dosamu di akhirat nanti?

“lebih baik diam, ketika tidak ada kata-kata positif yang bisa kamu katakan..”

Totally Agree. STRONGLY.

Karena itu, tulisan ini kutulis. Dan juga karena belakangan aku sering sekali mendengar curhatan orang-orang mengenai betapa membuat terlukanya basa basi busuk itu. Dan juga beberapa klien yang sebenarnya memiliki akar masalah yang sama kenapa belakangan mereka tidak se produktif sebelumnya. Karena basa basi busuk dari orang lain yang didengarkan dengan sangat sering, kemudian diresapinya dengan sangat dalam lalu terinternalisasi jauh ke dalam dirinya. Sangat disayangkan.

Selain itu, belakangan juga dikuatkan karena melihat thread di twitter (@mommy_elzar) yang sedang banyak dibagikan, mengenai basa-basi dari orang lain bahkan dari orang terdekat kita yang kemudian membuat hidup terpuruk dan hancur.

Misal, “segitu saja perusahaanmu memberimu gaji? Seharusnya kamu bisa mendapatkan lebih dari itu,” dan basa-basi itu kemudian menjadi petaka bagi penerimanya. Ia kemudian menuntut perusahaannya agar memberinya gaji lebih. Hal ini karena dia terhasut kata-kata si penceloteh. Hasilnya? Dia di PHK. Sangat disayangkan kan?

Thread ini sebagai pengingat bagi orang-orang yang memiliki kebiasaan berbasa-basi tanpa tahu resiko atau akibatnya. Dan ini juga sebagai pengingat untuk kita semua agar tidak menjadi “tersangka” untuk petaka orang lain. Thread ini mengingatkan kita untuk selalu menjaga lisan dan juga perilaku agar tidak menjadi “alasan” dari kehancuran orang lain.

Aku sangat sangat sangat menyetujui hal itu, bahwa orang-orang yang suka berceloteh dan berbasa basi busuk perlu diingatkan. Bahwa sebagai manusia tidak seharusnya kita menyakiti orang lain, baik dengan lisan kita, perilaku atau bahkan hanya dari niatan saja.

Tapi selain itu, aku juga ingin membagikan satu hal, bahwa kitapun harus sadar bahwa tidak harus, sekali lagi TIDAK HARUS menjadi “korban” dari celoteh-celoteh atau basa-basi busuk itu. Apalagi menjadi korban yang kemudian berubah menjadi tersangka. Jangan lakukan!

Salah satu caranya adalah, pentingnya menyadari, mengetahui, memahami kemudian menerima segala hal mengenai diri baik itu kelemahan kita, kelebihan, kemampuan bahkan segalanya. Agar kita tidak pernah menjadi korban celetukan, celotehan atau basa-basi yang tidak bertanggung jawab dari orang lain. Dan kemudian lebih disayangkan lagi membuatmu berubah menjadi tersangka dalam kehancuran dirimu sendiri atau keretakan cintamu pada yang lain.

Kita memang tidak bisa selalu mengingatkan orang lain untuk menjaga lisannya. Kita tentu tidak bisa mengontrol orang lain untuk melakukan atau berbicara hal-hal yang kita inginkan saja. Apalagi dengan orang-orang yang sudah memiliki kebiasaan suka berbasa-basi yang tidak perlu, terlepas tujuannya memang untuk menyakiti, menyindir dan membuatmu hancur, atau mereka yang tidak tahu atau sadar bahwa kata-kata (yang mereka anggap biasa saja) mereka bisa saja menyakiti orang lain dengan sangat dalam, dan sialnya yang ini juga sama saja jahatnya karena mereka tidak pernah peduli apa dampak dari kata-kata mereka untuk orang lain. Mereka hanya sekedar berkata-kata kemudian pergi, melepas tangan. Merasa tidak bertanggung jawab, karena mengira bahwa kata-katanya hanya sebuah candaan atau bahkan keisengan.

INGAT! Tidak semua orang memiliki kekuatan yang sama dalam menerima rasa sakit. Ada orang yang biasa saja ketika diejek, tapi ada orang yang langsung menangis sedih, menganggap dirinya tidak berguna ketika mendengar orang lain mengkritik dirinya. Ada orang yang ikut tertawa, menikmati kesenangan ketika mendapatkan candaan dari orang lain, tapi siapa yang tahu setelah dia sendirian di kamar? Bisa jadi air matanya tidak pernah berhenti mengalir di pipinya, atau bisa jadi dia tidak bisa tidur selama beberapa hari. Ekstrim ya, ya begitulah nyatanya. Karenanya, aku selalu suka nasihat orang tua kita, “jaga lisanmu!” dua kata yang memiliki banyak sekali makna.

Kali ini aku akan lebih menonjolkan cara agar kita tidak bisa korban, karena sangat sulit, sekali lagi, SANGAT SULIT untuk mengatur dan mengendalikan apapun yang dilakukan dan dibicarakan oleh orang lain. Tapi kupastikan akan sangat mudah, sekali lagi SANGAT MUDAH untuk mengatur dan mengendalikan diri kita sendiri dalam menerima segala hal dari luar.

Lalu, bagaimana cara menjaga diri dari bahaya basa-basi orang lain?

andiniayu picture

Pengalaman pribadi, bagaimana aku menjadi korban atas celotehan orang lain, kemudian secara tidak langsung menjadi tersangka untuk diriku sendiri.

Waktu itu, aku melihat sebuah postingan dari seseorang, sebenarnya tidak ada salahnya, dan dia tidak mengatakannya secara langsung padaku, dan sekali lagi kita tidak pernah bisa mengontrol orang lain untuk memposting apa yang mereka inginkan. Kurang lebih ini yang dikatakannya dibagian caption dari foto yang diuploadnya. “ini istriku, istrimu mana? Ah, no comment untuk suami-suami yang tidak pernah upload istrinya di sosmed.”

Melihat postingan itu membuat tubuh lemahku dan otak lelahku langsung terpancing. Yes, kata-kata itu berhasil menjadikanku korbannya. Kemudian dengan sangat cepat aku menjadi tersangka. Aku dengan membabi buta mencerca suamiku (yang tidak pernah upload fotoku di sosmednya) dengan pertanyaan-pertanyaan mengapa dia tidak pernah memperlihatkanku di social media nya, sampai yang paling parahnya aku bertanya apa dia benar-benar menyayangiku.

Bayangkan bagaimana kagetnya ia saat itu, tidak ada angin, hujan apalagi badai, istrinya mencercanya, hampir menuduhnya dengan tatapan yang pasti tidak bersahabat apalagi lembut. Saat itu aku benar-benar marah, karena aku merasa DIA TIDAK SAYANG AKU, karena TIDAK UPLOAD FOTOKU di sosmednya. Dan sekali lagi, dan yang paling berbahaya, aku merasakan hal itu hanya karena basa-basi orang yang tidak bertanggung jawab, dengan sindiran atau kalimat bersirat makna negatifnya.

Untungnya, dan ini yang selalu kusyukuri setiap saat, suamiku yang berjiwa tenang itu tidak ikut memanas, dia diam sebentar, kemudian menghela nafas, lalu meletakkan tangannya di kepalaku. 

“Kan kamu tahu sendiri kalau aku tidak suka yang begitu-begitu, itu hal yang tidak penting untukku,”
itu deretan kata-katanya yang ringan dan bernada santai sambil mengusap-ngusap kepalaku, menenangkanku dengan tatapannya yang lembut. Perlahan amarahku mulai reda, pikiranku kembali terbuka, dan aku mulai bisa berpikir jernih.

Tapi sebelumnya,

Aku dan dia sama-sama berargumen beberapa saat yang awalnya aku tetap keukeh bahwa dia tidak sayang aku karena tidak pernah memamerkan aku di dunia maya itu. Aku menerka-nerka apa dia malu karena aku menjadi istrinya dan lain-lain. Hingga akhirnya aku menyadari bahwa aku telah menjadi korban dan hampir menjadi tersangka kalau saja suamiku yang berjiwa tenang itu tidak segera menyadarkanku.

Penjelasannya, kata-katanya dan sikap tenangnya membuatku menyadari bahwa SANGAT PENTING untuk kita harus tahu dan ingat bagaimana diri kita dan dikasusku ini, bagaimana pasanganku. Suamiku memang tidak aktif di sosial media, aku tahu dia memang tidak terlalu menyukai untuk posting-posting foto atau yang lainnya. Sialnya aku tahu itu, tapi kenapa aku melupakannya sesaat?

Dia juga tidak pernah mengupload fotoku di sosial medianya dan membuat caption “ini istriku, dan bla bla bla,”. Tapi di rumah, di dunia nyata kami, aku tidak pernah kekurangan apalagi kehilangan kasih sayangnya, aku selalu bisa merasakannya sebanyak aku menghembuskan nafasku.

Kesalahan terbesarku saat itu adalah aku hanya berpikir bahwa suami yang upload foto istrinya di sosmed adalah definisi suami yang menyayangi istrinya.Aku membuang jauh-jauh pemikiran bahwa BELUM TENTU suami yang selalu memperlihatkan istrinya di sosmed, menandakan bahwa ia menyayangi istrinya. Seperti kata suamiku,

“belum tentu di rumah, atau di dunia nyatanya, dia sangat memperdulikan istrinya. Bisa jadi malah tidak peduli. Buat apa memperlihatkan istri di dunia maya, memberikan kata-kata yang sangat indah dan menyentuh, hanya untuk mendapatkan perhatian dari orang lain. Tapi kemudian di dunia nyata malah tidak diperdulikan sama sekali.”

Dan 30 menit sebelum aku akhirnya menuliskan ini (yang sebenarnya kutahan-tahan dari dulu), aku menemukan lagi sebuah pengingat dari @ibupedia.id. Ia menyebutkan tanda-tanda suami menyayangi istrinya, yang mana ini kubaca keras-keras di depan suamiku dan dia mendengarkan dengan seksama. Ini tanda-tandanya:

  1. Selalu setia
  2. Memprioritasnya kebutuhan keluarga
  3. Menerima istri apa adanya
  4. Bertanggung jawab atas nafkah lahir batin istri
  5. Saling kerja sama mengerjakan pekerjaan rumah
  6. Melibatkan istri dalam rencananya
  7. Bangga terhadap istri
  8. Memberi proteksi dan rasa aman
  9. Memberi hadiah di momen-momen spesial
  10. Menaruh rasa percaya
  11. Memberi support untuk istri atas hal-hal positif yang sedang ia kerjakan
  12. Meluangkan waktu untuk bersama istri
  13. Tidak malu memuji
  14. Mengasihi keluarga istri seperti mengasihi keluarga sendiri
  15. Jujur dan terbuka
  16. Menegur dan mengingatkan demi kebaikan istri
  17. Tidak mau menyakiti
  18. Memberi “me time”
  19. Peka 

Kemudian setelah kubaca, aku bahkan bisa memberi tanda centang untuk semua nomor. Semua nomor itu dilakukan oleh suamiku dan aku selalu merasakannya.

COBA DILIHAT!

Tidak ada kan poin “upload foto istri di sosmed dengan tujuan berbasa-basi menyindir pasangan lain”. Kemudian aku tertawa dan bersyukur setelahnya.

INTI TULISAN INI:

  1. Jangan menjadi tersangka untuk petakan orang lain, apalagi melalui kebiasaan berbasa-basi hal-hal negatif
  2. Jangan menjadi korban dari basa-basi orang lain yang kemudian bisa membuatmu menjadi tersangka atas petaka dan kehancuran dirimu atau keluargamu
  3. Kita tidak bisa mengontrol perilaku atau lisan orang lain 
  4. Tapi kita bisa mengontrol diri kita untuk tidak menjadi korban dengan selalu menyadari, mengetahui, memahami kemudian menerima apa saja yang kita miliki atau pasangan kita miliki.
  5. Selalu bagikan hal-hal positif ya, dan mudah-mudahan pengalamanku ini bisa “menyelamatkan” kalian juga.

Jadi, mulai sekarang, yuk ubah kebiasaan negatif menjadi kebiasaan positif untuk diri dan lingkungan yang lebih sehat! Kalau bukan mulai dari kita, lalu siapa lagi yang bisa meningkatkan kebahagiaan kita sendiri?

share love, not hate!

aa-

2 Comments

  • Hi Hairstyles

    What i do not understood is in truth how you are not actually a lot more neatly-favored than you may be right now. You’re so intelligent. You know thus considerably in the case of this matter, made me individually consider it from so many various angles. Its like women and men don’t seem to be fascinated except it is one thing to accomplish with Girl gaga! Your personal stuffs excellent. Always maintain it up!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *