Note to Self,  Titik Terang

3 Kata Ajaib (Maaf, Tolong, Terima Kasih)

Kita sudah sering sekali mendengar tentang 3 kata ajaib ini. Maaf, Tolong dan Terima Kasih. Banyak sekali bahasan tentang ketiganya, dan banyak juga orang-orang menceritakan mengenai pengalamannya terkait 3 kata ajaib ini. Dan sudah banyak juga yang memiliki harapan agar kita semua selalu bisa menerapkan hal itu dan menularkannya juga kepada anak-anak kita sedini mungkin. Banyak yang bercita-cita untuk selalu mengamalkan kata maaf, tolong dan terima kasih dalam kehidupan sehari-harinya. Agar nantinya akan menjadi kebiasaan kemudian menjadi budaya yang terus dilestarikan sampai berabad-abad lamanya.

Budaya minta maaf, budaya minta tolong, budaya berterima kasih. Oh indahnya.

3 kata ajaib ini memiliki banyak manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari, selain menunjukkan karakteristik sopan santun yang memang sebenarnya sudah mendarah daging di dalam jiwa kita (namun kadang masih perlu dipantik agar lebih menyala), manfaat lainnya adalah kita menjadi lebih tenang dan merasa lebih aman.

Kenapa demikian?

  • Mengucap maaf untuk kesalahan yang kita sadari ataupun yang tidak, akan membuat kita jauh dari kebencian dari orang lain. Dengan begitu hidup juga lebih tenang dan damai, jauh dari perasaan dendam yang menghantui
  • Mengucap tolong membuat kita merasa memiliki kesempatan untuk ditolong untuk menerima bantuan dari orang lain. Dan hal ini menyadarkan kita bahwa di dunia ini kita tidaklah sendiri. Kita masih memiliki keluarga, orang terdekat, bahkan orang lain yang kita bisa mintai pertolongan. Selagi kita masih mau mengucap kata itu.
  • Kata terima kasih, selain sebagai tanda bahwa kita memiliki adat sopan santun, kita juga merasa lebih tenang karena sudah mampu mengucap syukur dengan mengucap kata itu, entah kepada sesama, kepada keadaan, terlebih kepada Tuhan. Tahu mengucap syukur karena salah satu tolak ukur kita merasa bahagia.

Dan sebaiknya juga, kita sebagai orang dewasa, sebagai orang tua bisa mengenalkan 3 kata ajaib itu dan selalu mencontohkan dalam penerapannya kepada mereka. Agar sedari kecilpun anak mampu mengucapkannya dengan lugas, dan merasa manfaatnya untuk kehidupan sehari-hari mereka.

Jangan gengsi minta tolong, 
Jangan terlalu sombong untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf, 
dan lagi 
Jangan lupa mengatakan terima kasih untuk segala hal yang telah orang lain korbankan untuk kita. Tunjukkan syukurmu atas apa yang telah diberi semesta kepadamu. 

Banyak sekali kita temukan contoh sehari-hari, kita mungkin atau bahkan orang lain pernah lupa atau bahkan tidak terbiasa mengatakan 3 kata ajaib itu. Banyak terjadi hal seperti ini:

  • Lupa menyebut kata tolong saat membutuhkan bantuan, yang akhirnya akan terdengar malah seperti memerintah orang lain melakukan sesuatu atau mengorbankan yang dimilikinya untuk kebutuhan kita.
  • Enggan mengucap maaf saat melakukan kesalahan karena gengsi dan malu, yang kesannya jadi arogan dan jahat.
  • Ogah mengatakan terima kasih atas bantuan orang lain yang sudah memberikan waktu, tenaga bahkan segala yang ia miliki hanya untuk kebahagiaan kita, yang kesan akhirnya kita jadi terlihat tidak tahu diri.

Banyak juga kita temukan contoh-contoh orang yang sebenarnya mengucapkan satu atau dua atau ketiga kata itu, tapi terdengar tidak memiliki makna karena diucapkan dengan tidak tepat. Hal ini juga seharusnya tidak terjadi karena sudah pasti mengurangi makna positif dan indah dari 3 kata ajaib itu, dan orang yang menerimanya pun tidak bisa merasakan ketulusan dan kesungguhan hati kita. Lalu buat apa? Akan lebih sangat berarti jika kita mengucapkannya dan menunjukkannya dengan tepat dan semestinya bukan?

Mungkin ada dari kita yang sudah mengucap maaf, tapi sambil main handphone atau lain-lain tidak ingin melihat mata dan wajah lawan bicara. Padahal sebenarnya kata maaf itu harusnya diikuti dengan tatapan lembut, dan posisi tubuh yang menghadap ke lawan bicara kita untuk menunjukkan ketulusan serta penyesalan karena telah melakukan kesalahan.

Ada juga yang mengucap terima kasih sambil berlalu pergi, membelakangi orang yang dengan tulus membantu. Bukannya sebaiknya kita malah harus menunjukkan rasa syukur yang mendalam karena bantuan yang diberikan untuk kita yang benar-benar membutuhkan. Atau bahkan hanya sekedar tersenyum penuh syukur karena pemberian orang lain, walau tak seberapa nilainya menurutmu. Bukannya itu jauh lebih baik daripada melongos pergi, membawa kata terima kasih yang bahkan tidak terdengar dengan jelas?

Ada juga yang sebenarnya mengatakan tolong saat ingin meminta pertolongan orang lain, tapi dengan nada suara yang mengancam atau malah kesannya memerintah, membuat yang dimintai tolong tidak jadi berniat menolong atau malah mau menolong tapi dengan terpaksa. Yang hasilnya bisa saja ia akan menolong dengan setengah-setengah dan itu akan mempengaruhi kita juga nantinya.

Kemudian ada lagi jenis manusia lainnya. Beberapa orang seperti enggan/ogah mengucap kata-kata maaf, tolong dan terima kasih secara langsung dan menggantinya dengan sesuatu yang lain, dengan kata-kata yang lain atau malah dengan perbuatan. Bagaimana kalau begitu? Salahkah?

Contoh dari pengalaman pribadi.

Waktu itu, seseorang memintaku untuk mengantarnya ke suatu tempat untuk membayar sesuatu dengan daging. Aku ingat tidak ada kata tolong dalam permintaannya. Dia mengatakan “hai kak, kita mau kesini nih besok lusa, bawa daging. Gimana?” Karena aku paham artinya aku harus mengantar dengan mobilku, karena tidak mungkin dia membawa daging yang ukurannya cukup besar dengan motor, kemudian kukatakan “oke siap!”. Sungguh pengertiannya aku. HAHAHA. Lalu dia jawab lagi, “kakak ga apa-apa kan?” Its okay, jawabku singkat. Singkat cerita, kami sudah tiba dihari untuk membawa daging itu. Sejak bertemu denganku, yang notabene aku sudah menunggu sekian jam, tapi dia terlambat datang, dia sama sekali tidak mengatakan maaf. Padahal aku sudah mengorbankan waktuku untuk cepat-cepat datang untuk keperluannya itu. Dia hanya tertawa dan mengatakan “udah lama?” tanpa melihat kearahku secara tepat. Dia bahkan tidak berbasa basi apapun padaku, yang sebenarnya dia sangat butuh aku untuk mengantarnya dengan mobilku. Dia sibuk dengan yang lain, kemudian saat akan pergi ke tempat tujuan baru menghampiriku dan menanyakan kabarku. HAHAHA. Lucu. Kemudian singkat cerita lagi, setelah urusannya selesai, tidak ada sama sekali kata terima kasih terlontar dari mulutnya. Bahkan ia bersikap seperti menggunakan mobilnya sendiri. Jengkel sih, tapi sudahlah. Lalu diakhir cerita, dia memberiku sedikit daging itu, waktu itu aku berpikir mungkin itu bentuk terima kasihnya padaku. Jadi kuterima dan mengucapkan terima kasih dengan sungguh-sungguh, menghampiri dan menatapnya. Kuingat jelas saat itu, dia sedang sibuk dengan handphonenya mengatakan “ya sama-sama” tanpa melihatku. Lalu dengan cepat membuatku tersadar, “kenapa jadi aku yang kesannya sangat berterima kasih, bukannya harusnya dia dulu yang mengucapkan kata itu padaku?” atau aku jadi berpikir dia membayar waktu, tenaga, bensin dan kendaraanku dengan daging pemberiannya, dengan begitu dia tidak harus mengucapkan terima kasih?

Saat itupun aku jadi sadar, ternyata yang kubutuhkan bukanlah daging itu. Mungkin juga orang lain berpikir yang sama. Kadang yang kita butuhkan bukan uang, bukan harta sebagai balas budi atau balas jasa orang lain, tapi hanya sekedar kata terima kasih saja, sudah sangat membahagiakan. Hanya sekedar kata maaf saja, sudah sangat melegakan. Bahkan, hanya sekedar mengatakan tolong saja sudah sangat membuat dia berharga.

Aku tahu kalau aku terus-terusan mempermasalahkan ini akan terkesan aku terlalu ingin diakui dan ingin dibalas kebaikanku. Bukan itu fokus utamaku. Dari kejadian ini aku belajar, aku berpikir bahwa sebenarnya ada banyak sekali macam-macam orang. Dan ternyata masih ada yang tidak memanfaatkan 3 kata ajaib itu dalam kehidupannya.

Ternyata ada ya orang yang tidak rela bibirnya mengucapkan dengan gamblang kata-kata maaf, tolong dan terima kasih. Ada yang orang yang seakan-akan tidak rela dengan tulus dan sungguh-sungguh mengucapkannya dan juga dengan sikap yang tepat dan seharusnya. Memangnya dengan mengucapkan terima kasih membuat harga diri kita jatuh, karena telah dibantu oleh orang lain? Memang kita akan memiliki tahta yang lebih tinggi kalau kita mengganti kata sederhana itu dengan memberi saja?

Memberi adalah suatu yang sangat harus kita lakukan, akan sangat indah juga kalau konteksnya juga benar. Sama seperti keharusan mengatakan terima kasih sebagai tanda syukur atas kehadiran dan pengorbanan orang lain, dengan sesuai konteksnya.

Mengucapkan terima kasih sama-sama membuat kita sangat dihormati dengan kita yang memberi sesuatu kepada orang lain. Tapi, coba bayangkan, akan lebih indah lagi ketika kita memberi orang lain sebagai “bayaran” atas pengorbanannya kemudian diikuti juga kita yang mengucapkan kata terima kasih untuknya. “terima kasih ya karena kamu sudah mau membantuku, ini ada sedikit daging untuk kamu makan malam nanti.” Lain kan maknanya?

Jujur, aku tidak ambil pusing. Hanya ingin bercerita kemudian membagikan ini, siapa tahu sebagai pengingat juga untuk yang lain dari kejadian yang kualami. Bahwa ternyata penting juga ya mengucapkan 3 kata itu dengan benar dan tepat. Mungkin ada yang masih seperti cerita diatas, mungkin ada juga yang sudah selalu mengamalkan 3 kata ajaib itu dengan benar. Semuanya sebenarnya kembali ke masing-masing diri. Mau seperti apa, mau menjadi seperti siapa. Terserah kita, pilihan kita yang tentukan.

Tapi, jika nanti ternyata kamu menemui orang seperti di atas, atau malah lebih parah lagi, pesanku jangan berfokus pada sikap dan sifatnya itu. Fokus dan pikirkan sajalah bagaimana sikap dan sifat kita kepada yang lain. Seperti aku yang mengucapkan terima kasih atas pemberiannya dengan benar, ya begitulah sikap dan sifat kita, kalau toh mereka tidak melakukan hal yang sama, ya sudahlah. Terserah mereka.

Kesimpulan tulisan ini:

  1. Sebagai pengingatku kembali untuk lebih sering dan selalu menggunakan 3 magic words pada siapapun dengan kondisi apapun.
  2. Tidak perlu malu atau gengsi mengatakan “maaf, tolong dan terima kasih”, 3 kata itu bukan membuat kita lebih rendah dari yang lain. Malah tahu dan terbiasa menggunakannya dalam konteks yang tepat akan membuat kita dihargai dan di hormati oleh orang lain. Kita juga bisa menjadi inspirasi bagi orang lain.
  3. Tidak perlu mengganti ketiga kata itu dengan kata yang lain atau tindakan yang lain. 3 kata itu sangat sangat sangat sederhana, jadi buat apa susah-susah menggantinya dengan kata atau tindakan yang lain, yang sebenarnya tidak perlu malah hanya menyusahkan. Apalagi kita lakukan hanya karena menyelamatkan ego agar tidak terlihat lebih rendah. Tidak semua orang bisa memahaminya seperti aku yang berpikir “oh, dia memberiku daging sebagai ganti kata terima kasihnya”. Tapi ada orang yang tidak akan paham segitunya, memberi boleh-boleh saja, malah harus, tapi tetap katakan 3 kata itu dengan sikap yang semestinya dan tulus ya.
  4. Lihat mata dan orang yang kita ajak bicara saat mengucapkan 3 kata itu. Bukan sambil membelakangi atau sambil main handphone. Bersikaplah tulus untuk pengorbanan orang lain terhadap kita.
  5. Ajarkan 3 kata ajaib ini sedini mungkin kepada anak-anak kita, keponakan kita atau anak-anak didik kita. Caranya dimulai dengan kita, sebagai orang dewasa yang diperhatikannya, sebagai orang tuanya. Terapkan 3 kata itu saat kita melakukan interaksi dengan anak atau juga dengan orang dewasa lainnya. Berikan contoh yang baik kepada mereka dari tindakan yang kita lakukan. Anak lebih banyak belajar mencontoh dari orang sekitarnya, jadi contohkanlah sesuatu yang baik kepada mereka.

Semoga tulisan ini mengingatkan dan memberikan inspirasi positif ya.

Share love not hate,

aa-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *