Note to Self,  Titik Terang

#2 tulisan tengah malam | biar pernah aja

Malam itu, kami berdua mengendarai motor di bawah hujan. Hanya ada satu mantel dan tanpa helm. Anehnya, kami berdua sangat menikmatinya. Rintik hujan yang mengenai kepala, wajah, seluruh kulit, tidak terasa benar-benar menyakitkan, anginnya juga tidak terlalu dingin ternyata, dan, gelap malamnya tidak semenakutkan, seperti yang sudah-sudah.

Kami tertawa, dan sesekali berteriak geli ketika terciprat air. Tak ada pikiran sama sekali kalau nanti sampai di rumah, kami mungkin akan demam, atau flu. Aku rasa hati dan pikiran kami sepakat waktu itu. Selain itu, kami juga sepakat mengatakan ini bersama-sama, di waktu yang bersamaan..

“biar pernah aja”

biar pernah aja, kami menikmati hujan sesekali,

biar pernah aja, kami membiarkan tubuh dibalut airnya sesekali,

biar pernah aja, kami membiarkan bulu kuduk berdiri karena anginnya yang dingin, 

biar pernah aja. 

🌻🌻🌻🌻🌻🌻

Setelah malam itu,  bertambah satu lagi deretan kata yang kami sukai,

biar

pernah

aja

kata itu menjadi kata terpolos, kata sederhana yang bisa membuat hati menerima dengan ikhlas kondisi dan situasi yang sedang kita alami. Seperti kata (pertolongan) pertama dalam kondisi yang menghimpit. 

Tantangan, cobaan, ujian, masalah kecil bahkan masalah besar akan datang jika memang waktunya. Tidak bisa kita prediksi dengan tepat kapan itu. Walau kita sangat tidak menyukainya, tapi kita juga tidak bisa menghindarinya. 

Tapi kita bisa melakukan ini,

menerima, 
mencari tahu jalan keluarnya, 
mencoba, 
gagal, 
mencoba, 
gagal, 
tidak menyerah, 
mencoba, 
berhasil, 
lepaskan dan ucapkan selamat tinggal, 
tertawa sebagai sumber lega dan bangga terhadap diri,
permasalahan atau kesulitan kita bisa pergi dengan senang hati.

yes, you did it.

🌻🌻🌻🌻🌻🌻

Jauh sebelum kita (bisa) menerima keadaan dan kondisi menghimpit, kita pasti harus menenangkan diri dulu. Menarik nafas, supaya tidak terlalu terasa sesaknya. Diam sejenak, menyediakan waktu untuk hati dan kepala menikmati sejuknya angin sejenak, agar bisa lebih dingin dan tenang.

dan satu lagi,

ini pasti akan terasa sulit, sangat sulit. Kerelaan untuk mengatakan,

“its okay, biar pernah aja.”

Tidak ada yang benar-benar rela menerima luka, himpitan, kondisi yang menyiksa, kehilangan yang meninggalkan sesak, dan keputusasaan. Tidak ada yang benar-benar ikhlas untuk menanggung resiko dari kondisi-kondisi seperti itu. Karenanya untuk mengatakan “biar pernah aja mengalami kondisi seperti ini,” terasa sangat sulit dan berat untuk diucapkan. 

Walau sangat sulit, tapi belum tentu tidak bisa untuk dilakukan, apalagi ketika kita sudah menyiapkan hati dan pikiran dalam keadaan sejuk dan tenang, dan menyadarkan nafas kita untuk lebih plong dan lega. 

BISA, PASTI. 

Walau penuh penuh penuh dengan perjuangan. 

🌻🌻🌻🌻🌻🌻

“…biar pernah aja,”

mengandung banyak makna, dan memberikan beragam kelegaan untuk kita.

  • keikhlasan dan kerelaan menerima kondisi terburuk
  • kita tak terlalu terbeban dan tidak menjadi sangat takut saat berhadapan dengannya 
  • menyadarkan kita bahwa selalu ada ‘pertama kalinya’ dalam hidup ini dan sudah pasti selalu harus ada usaha dan perjuangan untuk mencari tahu dan menaklukkan hal itu
  • membuat kita siap mencari tahu cara dan menjalaninya
  • memberi semangat untuk belajar pemecahaan masalah yang lebih banyak

Semoga tulisan tengah malam ini bisa membantu menyadarkan bahwa setiap masalah atau apapun yang terjadi dalam hidup kita, akan selalu ada cara atau jalan untuk menyelesaikannya. 

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *